Saturday, May 21, 2016

CERPEN : KETIKA SALJU MELELEH DI HATI SAHABAT



“Wow, lihat tuh arah jam 12! Kuk ada sih lelaki caemnya seperti itu,” Kata Novita dengan wajah berseri – seri. Seolah, daya magis ketampanan lelaki yang duduk hanya dipisahkan dua buah meja darinya menghipnotisnya. 

Setengah aktivitasnya - ketika ingin memasukkan sebuah toping cokelat es krim yang terdapat pada sebuah sendok dalam genggaman erat jemarinya ke dalam liang mulut pun terhenti, konsentrasinya kini hanya tertuju pada lelaki yang sedang duduk elegan dan menyeruput secangkir kopi

Rasti, dengan dingin memperhatikan sifat aneh yang ditujukan oleh sahabatnya yang duduk disampingnya. Dia mendapati Novita mulai kembali menggerakkan toping coklat diatas sendok dalam genggamannya, namun tujuannya melenceng dari awalnya ingin melahapnya masuk ke dalam mulut malah akhirnya menjadi menyentuh pipi kanannya karena wajahnya berpaling dan fokusnya sedari tadi terkunci erat kepada seorang lelaki.

Novita terhenyak ketika merasakan ada krim coklat menyentuh pipinya. Dia kemudian berpaling melihat Rasti yang memandangnya dengan dingin. Dia sadar mungkin Rasti agak curiga dengan sikapnya, namun dengan cepat dia kembali bersikap normal agar Rasti tak mengetahui bahwa emosi perasaannya barusan teralihkan oleh lelaki yang tak jauh berada dihadapannya.

"Tolong ambilkan tisu disebelahmu Rasti, " pinta Novita sambil menyunggingkan senyum seolah seperti dipaksakan.

"Nih," kata Rasti sambil mengulurkan dua lembar tisu yang baru dicabut dari sarangnya. Dengan segera Novita langsung menyambarnya dan secepat kilat mengelap noda krim cokelat yang mengotori pipinya.

"Kuk ada sih lelaki yang caem seperti itu?" Rasti mengulangi perkataan yang belum lama diucapkan oleh Novita. Mendengar itu, sontak Novita menghentikan gerakan mengelap pipinya dengan tisu.

"Eh...apa kau bilang Rasti barusan...???" Tanya Novita berlagak tidak mendengar.

"Kuk ada sih lelaki yang caem seperti itu..?" Ulang Rasti. Kemudian hening sejenak. Mereka berdua bertatapan.

"Apa aku barusan berkata seperti itu Rasti....??" Pernyataan Novita yang malah semakin membuat bingung Rasti.

"Dengar ya, " Kata Rasti dengan nada agak kesal. " Katanya kamu tadi ingin ditemani ke toko buku di Mall untuk mencari rangkuman soal - soal menghadapi Ujian Nasional, nyatanya kamu malah membaca - baca majalah, komik dan tak sekalipun menginjak area buku pelajaran. Katanya setelah membeli buku kamu ingin ditemani makan steak kesukaanmu, nyatanya kita malah duduk di salah satu stand cafe yang diluar tujuan awal tanpa penjelasan apapun. Terlebih, tiba - tiba kamu berkata; Kuk ada sih lelaki yang caem seperti itu!. Kamu ingat kan perkataanmu yang terucap itu sama persis seperti 3 bulan lalu ketika kamu tujukan kepada Anton dan sekarang dia menjadi pacarmu. Aku heran dengan statusmu yang sudah punya pacar masih saja melontarkan perkataan itu kepada lelaki lain, terlebih..."

Rasti mendongak ke arah lelaki yang sedang santai menyeruput cangkir kopinya dan diikuti pandangannya oleh Novita dan kemudian melanjutkan perkataannya yang sempat terjeda; " terlebih...lelaki tersebut mungkin sudah berumur 35 tahunan, atau bahkan sudah mempunyai keluarga, sangat jauh berbeda dengan kita yang masih sama - sama 17 tahun" 

Novita menundukkan pandangannya dan dengan canggung memegang sedotan yang terpancang di atas gundukan toping cokelat dalam gelas kaca model payung yang terlihat didalamnya dipenuhi oleh seonggok es krim. Tanpa langsung merespon perkataan Rasti, dia dengan santai menyeruput habis es krim hingga tak menyisakan apapun dalam gelas. 

Tak lama, datang sebuah wanita dengan usia matang berpakaian jas rapi dengan rok model pendek yang menyiratkan tungkainya yang indah dibalut dengan sepatu hak tinggi menawan menghampiri lelaki tersebut. Lelaki itu menawarkan sang perempuan untuk duduk dan mulai bercengkrama. Wajah kedua orang tersebut menyiratkan ekspresi bahagia. 

Melihat suasana itu gemuruh emosi Novita tiba - tiba meningkat. Dia langsung berdiri dan berujar kepada Rasti untuk pulang saja.

"Hei..hei...tunggu sebentar Novita!," kata Rasti dengan melambaikan tangannya ke arah Novita yang mendadak beranjak dari kursi dan berjalan menuju pintu exit. Sekeluarnya Novita dari stand caffe, dalam posisi masih terduduk, Rasti melihat di hadapannya, di atas meja berdiri sebuah milkshake miliknya yang baru dia seruput beberapa tegukan saja dan sebuah piring berisi kentang goreng yang belum dia sentuh sama sekali karena sedari tadi fokus pikirannya hanya tertuju memperhatikan perilaku sahabatnya yang serba aneh hari ini dan tanpa diduga sahabatnya itu dengan kemauannya sendiri tanpa memperdulikan situasi di sekitarnya dengan entengnya meninggalkannya begitu saja. Dia benar - benar dibikin kesal oleh sifat ketertutupan sahabatnya hari ini
.
@@@@@

Sepatu kets-nya memang agak lusuh, tapi dengan perpaduan celana jeans yang digunakannya dengan model beberapa robekan di bagian pangkal siku, ikat pinggang yang menggantung dan kaos yang berukuran lebih besar dari tubuhnya, membuat mode fashion yang dikenakannya malam ini sangat pas dengan gadis seumuran dirinya. Rambutnya tidak begitu tergerai ketika berjalan karena terselip sebuah bando berhiaskan pita yang memberikan kesan imut manja pada wajah Novita. Dalam hiruk pikuknya pengunjung mall, dia berjalan dengan lugasnya namun dengan ekspresi wajah yang tak bisa ditebak. Dari belakang perlahan - lahan Rasti terlihat berlari menyusulnya sambil membawa bungkusan kentang goreng yang tak sempat dimakannya dan sebotol gelas plastik berisi milkshake miliknya yang juga belum sempat dinikmati sepenuhnya saat berada di stand caffe.

"Apa kau kenal dan ada masalah dengan lelaki tadi?" tanya Rasti ketika sudah berjalan sejajar dengan Novita dengan nafas yang sedikit tersenggal. 

"Tidak, aku tak mengenalnya, " jawab Novita tanpa melirik sedikitpun kepada sahabatnya itu.

Tiba - tiba saja smartphone milik Rasti berbunyi, menyebabkan kedua sahabat itu memberhentikan langkahnya. Novita melihat ekspresi Rasti yang tersenyum mendapati siapa gerangan yang menelepon dirinya.

"Tolong pegang dulu, " kata Rasti sambil memberikan bungkusan plastik berisi kentang goreng dan gelas plastik milkshake-nya. Novita dengan segera menerimanya begitu saja tanpa keberatan apapun.

"Sayang, bukannya malam ini kamu bilang lembur karena tadi bbm ke aku ada kiriman kontainer yang datang di pelabuhan..?" Kata Rasti kepada kekasihnya dan perlahan beranjak meninggalkan Novita untuk mencari tempat yang sekiranya tidak terlalu bising untuk berdialog ditelepon. Sedangkan Novita hanya berdiri mematung melihat sahabatnya pergi meninggalkannya.

Selang 10 menit berlangsung, tawa ceria perbincangan Rasti dengan kekasihnya ditelepon terpaksa suasananya harus berubah ketika dirinya mendapati Novita sedang menangis tersedu - sedu di kursi pengunjung bagian pojok bersanding dengan area ATM di mall. Melihat sahabatnya sedang menagis tanpa sebab yang dia ketahui, dia diam seribu bahasa sedangkan samar - samar dalam speaker smartphone-nya, kekasihnya menanyakan dengan khawatir mengapa dirinya mendadak diam dan membuat suasana menjadi kaku.

"Bentar ya sayang, aku ada urusan sejenak, nanti aku yang akan telepon menjelaskan, "Ucap Rasti seketika dan langsung memutuskan hubungan tanpa memberi kesempatan kekasihnya untuk berkata sesuatu. Setelah itu dia berlari menghampiri Novita.

"Hey..., " Ucap Rasti kepada Novita dengan tangan yang sudah setengah diarahkan untuk menyentuh pundak sahabatnya itu namun mendapat tepisan pelan, mengisyaratkan bahwa Novita sedang tidak ingin diganggu dalam kesedihannya. Kedua sahabat itu mempunyai sifat yang sangat keterbalikan. Novita yang selalu egois dan ingin selalu tegar menghadapi masalahnya sendiri sedangkan Rasti yang keras kepala selalu ingin ikut terlibat dalam segala urusan orang lain walau itu menguras waktunya dan tak menguntungkannya dari segi apapun.

"Ceritakanlah kalau itu bisa membuatmu lega," saran Rasti kepada Novita yang masih sibuk menyeka air matanya. Walau Rasti tahu bakalan mustahil membuat sahabatnya ini untuk berbicara karena sudah paham betul dengan sifatnya.

"Kenapa aku tak bisa mendapatkannya?" Kata Novita sebagai langkah awal memulai curhatnya. Kata - katanya itu membuat Rasti senang karena untuk pertama kali sahabatnya ini mau mengutarakan sesuatu dalam hidupnya. Rasti memalingkan wajah, mengubah posisi duduknya ke arah Novita dan memandanginya dengan antusias sambil dalam hati berkata, lanjutkanlah sobat.

"Kenapa aku tak bisa seperti lelaki dewasa tadi, terlihat bahagia bersama entah siapapun wanita yang mendatanginya saat berada di stand caffe. Kenapa aku tak bisa sepertimu, setiap harinya terlihat bahagia berhubungan dengan kekasihmu, walau kalian berselisih usia 11 tahun dan kamu masih duduk di bangku sekolah sedangkan kekasihmu merantau menjadi tulang punggung keluarga, segala perbedaan itu, sepertinya tidak menjadi penghalang apapun bagi kebahagiaan kalian, " Ucap Novita dengan terbata - bata dan sedikit tersedak karena ingus yang dikeluarkannya saat menangis sangat tak beraturan banyaknya.

"Kenapa kamu berkata seperti itu...?" Kata Rasti sambil kedua jemarinya menyeka kantung mata Novita yang mulai membesar dan kedua bola matanya semerah darah.

 "Tiga minggu lalu....saat aku mendapati sebuah bbm mesra berasal dari seorang wanita bernama Lusi pada smartphone milik Anton tanpa sepengetahuanya, tanpa berprasangka buruk aku harap semua baik - baik saja. Dan hari ini, tiba - tiba dengan langkah sepihak Anton memutuskanku. Hal - hal seperti ini sering terjadi kepadaku, entah itu ketika aku dikala masih bersama Budi, Raffi, Anwar dan sekarang Anton. Mengapa harus terjadi kepadaku? Kenapa aku tak bisa mendapatkan sesuatu yang indah seperti dirimu Rasti?"

"Ya ampun...jadi selama ini dirimu..., "Kata Rasti namun sontak dia segera menutup mulutnya dengan telapak tangannya, terkejut mendengar pernyataan dari sahabatnya ini yang menegaskan bahwa dirinya selama ini dibohongi ketika menanyakan alasan mengapa hubungan Novita dengan mantan - mantannya dulu selalu kandas dan selalu saja jawaban - jawaban yang dirinya dapatkan dari Novita berupa hal - hal yang monoton seperti : disebabkan oleh faktor orang tua yang tidak menyetujui atau belum diijinkannya sahabatnya ini berpacaran menjelang Ujian Nasional selama ini ternyata hanyalah bualan dan karangan belaka. Faktanya, setelah mendengar kebenaran yang terungkap, dirinya sadar bahwa selama ini sahabatnya memendam segala kepedihan itu rapat - rapat untuk dirinya sendiri.

"Apa ada sisa kebahagiaan untukku Rasti dengan segala kondisi yang seperti ini?" Keluh Novita dalam ekspresi keputus - asaan yang amat mendalam.

Rasti langsung dengan segera mendekatkan jarak kepada Novita dan mendekapnya. Dalam dekapannya dia seolah merasakan apa yang dirasakan sahabatnya saat ini juga. Ada rasa kelegaan jiwa ketika Novita memandangi wajah Rasti setelah dia melepaskan dekapannya.

"Biarlah aku menjadi sisa kebahagianmu sebagai sahabatmu Novita sampai dirimu mendapatkan kebahagiaan sejati suatu saat nanti, selama perjalanan itu aku akan selalu ada untukmu, " kata Rasti tanpa menghiraukan dering smartphonenya yang sedari tadi berbunyi yang mungkin saja dari kekasihnya yang khawatir karena mendadak memutuskan sambungan.    
      
     TERIMA KASIH

14 comments:

  1. waa temennya baik banget
    sial terus itu mbak Novita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukannya sebelum menemukan jodoh kebanyakan harus melewati kesialan bertubi - tubu? hihihi :)

      Delete
  2. keren banget temennya. salut hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya makasih mbak Raara :) Setidaknya aku ingin menyampaikan gambaran seorang sahabat sejati :)

      Delete
  3. memendam masalah sendiri memang ngga baik. Lebih baik sharing sama orang yang terpercaya karena bisa melegakan, tapi sayang nggak semua orang mau berbagi. Seperti kisah yang arif tulis pada akhirnya Novita mau berbagi dan sedikit mampu melegakan perasannya. Nice story!

    ReplyDelete
    Replies
    1. "Tapi sayang nggak semua orang mau berbagi"
      Tak kutip komentar mbak Indah diatas, dan tak tambahi:

      Tapi sayang juga gak semua orang memiliki orang yang terpercaya.

      jadi Intinya bersyukurlah kalian - kalian yang mempunyai sahabat sejati. Sahabat sejati itu sangat spesial. Ada sebuah ikatan yang rasanya berbeda antara seorang sahabat dan belahan jiwa :)

      Makasih dah mau baca Mbak :)

      Delete
  4. Aku mau dong kentang gorengnya? hehehe yang sudah berpunya jangan dilirik ya Novita? hehehehe. Welcomeeeee. lama nggak muncul penulisnya nih hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh dilirik asal pake kacamata hitam hihi :P Iya maaf banget Evi terlalu lama menghilang T,T Tak usahakan gak kan terulang lagi :)Amin

      Delete
  5. Kasihan sekali Novita, kisah cintanya selalu berakhir sama, menyedihkan. Perih. Jangan pacara dulu makannya, Nov :"

    Untung dia punya sahabat seperti Resti ya :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Noviyana atau Novitanya yang btw gak boleh pacaran nih? :D

      Sahabat emang bikin dunia bewarna, tanpa sahabat emang selalu ada yang dirasa kurang :)

      Makasih Yana dah mampir :)

      Delete
  6. bagus ceritanya, apa memang kata 'kok' ditulis jadi 'kuk'?
    bacanya jadi aneh hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya oke deh besok2 tak rubah jadi "kok" kalau begitu he :)
      Makasih tanggapannya ya Risya :)

      Delete