Sunday, May 31, 2015

CERBUNG HOW CAN BE PART 4

Memasuki awal musim penghujan, memang hawanya tidak begitu mengenakkan. Ketika mendung tiba, udara menjadi sedikit panas bercampur lembab. Aku tidak begitu suka keadaan seperti itu, membuat keringat ini dengan sendirinya keluar tanpa melakukan gerakan olahraga sedikitpun. Memang musim penghujan kali ini datang lebih cepat daripada tahun – tahun sebelumnya.

Pada tahun sebelumnya aku teringat jika hujan tiba, aku selalu bermain dengan Ujang, Rara dan Mimit di kamar kost dibelakang halaman rumah ketika belum ada penghuninya. Saat ini ketika hantaman air hujan yang bertubi – tubi membasahi genting rumahku, dari teras belakang rumah, sambil bersandar di mulut pintu, yang kulakukan hanya memandangi kandang Ujang, Rara dan Mimit dari kejauhan. Maap, aku tak tahu harus mengajak kalian kemana lagi jika hujan tiba. Markas bermain kita sekarang sudah dihuni oleh kak Andi. Kupikir mulai besok aku harus mengubah jadwal bermain kita mengingat musim penghujan sudah tiba.

Kupalingkan tatapanku pada kamar kost yang dihuni oleh Kak Andi. Kulihat pintunya tertutup erat. Begitu pula dengan jendelanya. Tak kudapati kali ini sepatu hitam yang biasanya tergeletak sembarangan di emperan terasnya. Yang kulihat hanyalah genangan – genangan kecil air yang terbentuk akibat siraman hujan. Kutengadahkan kepalaku dan kupandangi langit hitam yang mendung. Mengamati cuaca langit saat ini, rasa – rasanya suasana mendung juga sedang menyelimuti hatiku. Kak Andi hari Jum’at kemarin kemarin pamit pulang ke Surabaya  selama 3 hari karena alasan Ibunya sedang sakit. Mendengar itu dari Ayah berarti 3 hari ini aku harus belajar sendiri tanpa dirinya. Aku ingat malam Sabtu kemarin ketika mengerjakan soal – soal di LKS matematika. Aku bisa mengerjakan beberapa soal, konsentrasiku tak tergoyahkan ketika memecahkan perhitungan, hanya saja, sepertinya ada yang kurang dalam hati ini tanpa kehadiran kak Andi. Entahlah, mengapa aku merasa seperti kesepian tanpa kehadiran kak Andi? Bukannya ada Ayah, Ibu, Ujang, Rara dan Mimit? Tapi apapun itu, perasaan ini muncul begitu saja. Atau mungkinkah ini yang disebut rindu...? Aku tak mau banyak ambil pusing mengenai pergolakan yang terjadi di hatiku. Hari minggu sore ini, suasana ditutup dengan kucuran air hujan yang tak ada hentinya sejak siang tadi. Yang aku harap, semoga Ibu kak Andi cepat diberikan kesembuhan sehingga besok hari Senin aku bisa menyambut kepulangan dirinya.

******

Pada Senin sore yang cerah dan tidak hujan seperti hari – hari kemarin, setelah memasukkan Ujang, Rara dan Mimit ke dalam kandang, begitu senangnya diriku ketika mendapati  bahwa pintu kamar kost Kak Andi sudah terbuka sedikit. Kuperhatikan, sepatu warna hitamnya juga sudah berserakan di emperan teras, sesuai dengan sifat kak Andi yang tak pernah peduli dimana dia meletakkan sepatunya sesampainya di kost. Mengetahui itu, aku  langsung mandi. Anehnya mandi kali ini aku kerap menyanyikan lagu – lagu pop melow yang sedang hits di kancah siaran radio lokal ditempatku. Apakah aku terlalu girang karena kedatangan kak Andi sehingga aku menjadi terlalu ber-euforia yang akhirnya membuat Ayahku menegurku karena terlalu lama mendekam di kamar mandi  layaknya burung yang sedang mengerami sarangnya.

Setelah melaksanakan kewajiban shalat Mahgrib, tepat pada pukul 6 malam, aku langsung meluncur ke kost kak Andi. Aku sengaja ingin belajar lebih awal dengan alasan agar bisa lebih berlama – lama dengan dirinya. Tidak bertemu dengan kak Andi selama 3 hari saja, entah bagaimana rasa – rasanya seperti seminggu dan sontak saja aku teringat lagu romantis yang sedang ngetren di radio yang lirik lagunya sama dengan suasana hatiku saat ini. 

Namun dari kejauhan, begitu terkejutnya diriku mendapati bahwa kamar kost kak Andi gelap gulita tanpa penerangan lampu. Pintunya pun posisinya masih seperti tadi sore dengan posisi hanya terbuka sedikit. Rasa penasaran mendadak menyesaki otakku yang sontak membuatku langsung berlari ke arah kamarnya.

Ketika sampai di depan pintu, kuintip ke dalam pada celah pintu yang terbuka. Tidak begitu jelas apa yang terjadi di dalam karena gelap, namun karena sisa – sisa cahaya dari lampu penerangan kandang ayam, yang meski jaraknya berjauhan dengan kamar kak Andi, setidaknya sedikit membantuku untuk melihat sosok kak Andi yang sedang duduk membelakangi meja mungilnya. Apa yang dilakukannya gelap – gelap di dalam kamar duduk termenung diam dengan pandangan tertunduk seperti itu? Apa kak Andi masih sedih dengan kondisi ibunya yang sedang sakit?

Karena merasa ada yang tak wajar terjadi dengan diri kak Andi, maka kuberanikan diriku untuk mengetuk pintunya. Tok – tok – tok!!! Untuk ketukan yang ketiga sengaja kukeraskan kepalan tanganku pada kayu jati yang menjadi bahan dasar pintu kamar. Dan akhirnya berhasil, ketukan pintu yang kulakukan membuat kak Andi tersentak kaget dalam diamnya. Meski samar – samar, kulihat dia menoleh ke belakang. Akhirnya, kak Andi berdiri dengan cepatnya. Aku sempat takut karena keadaan di dalam gelap, dan sosok kak Andi hanya terlihat samar- samar dalam gelap, jantungku sempat berdegup kencang andai jika sok – sok hitam yang berdiri itu bukan kak Andi melainkan wewe gombel ataupun genderuwo. Tapi syukurlah, ketika lampu dinyalakan, 100% itu adalah sok – sok kak Andi yang asli bukan mahkluk jadi – jadian ataupun sebagainya seperti yang kukhawatirkan.

Krieettt bunyi pintu terbuka dan kak Andi berdiri tegap dihadapanku. “Oh, Lili,...” hanya itu kata yang terucap di mulutnya dengan nada lemas. Kulihat wajahnya sangat kusam, dan kupikir kak Andi belum mandi sepulang dari perjalanan. Sebulan berada di kost kuamati rambutnya sudah memanjang dan kondisinya kudapati saat ini sangat acak – acakan seakan kak Andi menjambaki sendiri rambutnya sampai amburadul. Kami sempat lama saling pandang dalam diam. Lebih tepatnya aku bingung ingin mengucapkan sepatah kata apa terhadap diri kak Andi yang kupikir berbeda kali ini. Dalam matanya, kulihat tatapan kosong yang seolah diriku tak ada dalam penglihatannya. Entah pikiran apa yang membebani dalam otaknya hingga membuatnya seperti ini, tapi kupikir karena keadaan ibunya yang sedang sakit.

“ Oh, ya Lili,” Ucap Kak Andi  masih dengan nada lemas. “ Bisakah hari ini kita tidak belajar bersama dulu? Emm..badanku agak tidak enakan.”

“Oh....,hanya begitulah reaksi kecewaku dengan permintaan kak Andi. Meskipun kulihat tak ada sedikit pun tanda – tanda meriang pada diri kak Andi. “Baiklah kak, aku pamit dulu,” kataku pada kak Andi yang kini bergantian menggunakan nada lemas.

“Oh, tunggu dulu Lili, “ Kak Andi seketika menghentikan langkahku. Hampir saja lupa, aku membawakan oleh – oleh untukmu dan Ayahmu, masuklah sebentar”. Perkataannya itu sedikit mengobati rasa kecewaku karena tak dapat belajar bersama hari ini, namun setidaknya ada sedikit waktu bagiku dengan kak Andi meski hanya perihal oleh – oleh.

Sesampainya di dalam kamar, kak Andi menyuruhku duduk di depan meja mungil sembari dirinya membelakangi diriku sambil membuka sebuah kardus yang diikat erat oleh tali rafia dan ditempel erat menggunakan plester. Di depanku, tergeletak sebuah buku catatan yang lupa ditutup oleh kak Andi. Buku itu mempunyai dimensi yang kecil namun tebal. Setelah kucermati ternyata buku itu adalah sebuah buku harian. Wow, kak Andi ternyata menulis dan mencurahkan segalanya di buku hariannya. Aku sendiri malah tak berfikir dua kali untuk menulis seperti apa yang dilakukan oleh kak Andi. Ujang, Rara dan Mimit adalah tempat terbaik bagiku untuk mencurahkan segalanya selama ini meski aku tahu mereka tidak akan paham semua yang aku utarakan namun aku merasa lega jika melakukannya.

Kalau dipikir – pikir, ternyata di dalam kamar ini daritadi kak Andi sedang menulis di buku hariannya. Tapi agak janggal juga jika kak Andi menulis dalam keadaan gelap gulita ketika diriku mengunjunginya. Yang kulihat samar – samar tadi bahwa kak Andi duduk tertunduk lesu dan pandangannya mengarah ke arah buku diari yang ada dihadapanku ini. Lalu apa yang direnunginya dari buku diari ini? Aku jadi penasaran dan otakku mulai mendesakku untuk memberikan perintah agar memanfaatkan kesempatan membaca tulisan yang tertuang dalam buku diari ketika kak Andi sedang sibuk mengeluarkan oleh – oleh dari dalam kardus. Ketika sebatas membaca dua kalimat, langsung aku menengadahkan kepalaku ke arah atas. Tidak boleh, tidak boleh, ini rahasia orang lain, aku tak boleh diam – diam membacanya .Seketika itu juga, handphone milik kak Andi bergetar dan layarnya yang berukuran besar menyala. Dan tanpa sengaja, aku membaca rentetan pesan yang membentuk kronologis seperti chat. Nama pengirimnya bernama Zaenal. Tetapi kak Andi dalam kontak pesannya memberikan nickname Zaenal bestfriend, menandakan Zaenal lebih dari sekadar teman, bisa jadi sahabat sejati. Dalam salah satu paragrahnya, aku sedikit tertegun ketika membacanya.

Bukankah sudah aku bilang. Ayunda bukanlah gadis yang baik buat kamu. Kupikir dia jadian dengan kamu hanya untuk mengisi hatinya yang kosong saat ditinggalkan oleh Anton kekasihnya yang pernah putus saat mereka SMA. Maap jika aku mengatakan kepadamu bahwa aku mendapati Ayunda dan Anton terlihat sangat berdekatan sekali ketika mereka berdua dipertemukan dalam satu desa tempat dimana mereka berdua saat ini PPL di Surabaya. Zack yang satu tempat PPL dengan Ayunda memberitahuku bahwa dia melihat kamu dan Ayunda terlibat adu mulut minggu kemarin. Hmm, tega sekali kamu tidak memberitahuku jika dirimu pulang beberapa hari ini ke Surabaya untuk menindaklanjuti laporanku mengenai Ayunda. Ingat, kau masih berhutang padaku lontong balap loh, hehe.

Begitulah, sebuah paragraph pesan masuk di hanphone milik kak Andi yang membuatku tertegun setelah membacanya. Di sini aku menemui titik terang bahwa ternyata kak Andi kembali ke Surabaya kemarin bukan karena urusan Ibunya yang sakit, melainkan menindaklanjuti masalah dengan pacarnya berdasarkan laporan – laporan dari sahabatnya Anton yang juga satu area PPL dengan Ayunda. Namun aku belum 100% paham betul dengan masalah yang dihadapi oleh kak Andi. Jalan alternatif untuk mengetahui semuanya adalah dengan membaca sebuah diari yang ada dihadapanku ini. Kutajamkan pandanganku ke arah lembaran kertas diari yang ada dihadapanku, kemudian kulanjutkan kembali tulisan dari dua kalimat awal yang sempat tertunda tadi. Namun tiba – tiba suara guntur muncul dengan kerasnya dan memekakkan telinga. Karena pintu kamar tidak ditutup, hembusan angin memasuki ruangan kamar. Beberapa lembar kertas diari tersibak karena hembusan angin, dan selembar kertas ukuran kartu nama namun sedikit lebih lebar keluar dari lembaran kertas yang tersibak dan terbang melayang. Dengan respon cepat aku menangkap kertas yang melayang itu. Dalam genggaman tanganku, aku merasakan bahwa ini adalah selembar foto. Posisi saat aku menggenggamnya adalah foto itu membelakangi wajahku. Jadi hanya lembaran warna putih bagian belakang foto saja yang kudapati. Tapi di lembaran warna putih yang memenuhi seluruh bagian belakang kertas poto itu terdapat tulisan My First Love. Aku sangat tahu tulisan tangan ini milik kak Andi. Ketika kubalikkan lembaran kertas foto itu, terdapat sebuah gambar seorang gadis setengah badan dengan raut wajah yang sedang tersenyum.

Gadis itu memakai seragam almameter kampus yang sama dengan kak Andi. Latar belakang di foto tersebut adalah sebuah pohon yang rindang di tengah taman yang luas. Gadis itu berwajah oval, namun kesan ovalnya tertutupi oleh model rambut pendeknya yang tidak sampai sebahu bergaya poni yang lebat diatas jidatnya. Bentuk wajah, gaya rambut disandingkan dengan senyumannya saat dipotret, memberikan keserasian yang optimal untuk menimbulkan sebuah kesan manis dan imut dalam dirinya. Di sisi bawah sebelah kanan foto tersebut, terdapat tulisan tangan kak Andi yang merangkai sebuah nama Ayunda Lestari.

Kresek – kresek, bunyi plastik terdengar seperti bunyi seekor tikus yang mencari – cari remahan makanan di semak – semak dapur. Ternyata bunyi itu berasal dari kak Andi yang sudah berhasil mengurai ikatan dan membuka kardus dan mengeluarkan beberapa makanan yang dibungkus oleh plastik yang tebal. Sontak saja ketika itu aku langsung kembali menyelipkan foto kak Ayunda kembali ke dalam tumpukan lembaran diari yang berada didepanku. Pas saat wajah kak Andi menoleh ke arahku sambil berkata mengenai oleh – oleh kerupuk ikan yang dibawanya, foto itu sudah aman kembali ke posisinya semula.

Setelah berpamitan kepada kak Andi aku berjalan menjauhi kostnya. Dengan kedua tanganku yang mendekap dua buah krupuk ikan oleh – oleh dari kak Andi beserta buku – buku LKS dan pelajaran yang kujadikan satu, aku mendadak memberhentikan langkahku. Kubalikkan badanku   dan sekarang aku menatap kamar kost kak Andi dari kejauhan sambil berdiam diri. Langit mulai menyala – nyala akibat guntur yang muncul secara bertubi – tubi tanpa mngeluarkan gelegar suaranya sedikitpun. Rintik hujan, mulai kurasa sedikit demi sedikit membasahi tubuhku. Seumur hidup, baru kali ini aku mengalami sebuah perubahan perasaan yang sangat drastis. Dari awalnya aku yang sangat bersemangat ingin segera menemui kak Andi sepulangnya dari Surabaya karena dorongan perasaan yang belum pasti juga kuyakini sebagai sebuah perasaan rindu, secara drastis tiba – tiba saja berubah menjadi sebuah perasaan yang sedikit mengena di hati. Saat ini diriku benar – benar merasa...galau.   

( 31 - 05 - 2015 )
ARIEF W.S
TERIMA KASIH 

25 comments:

  1. cerita yang bagus gan... dialog dan kata-katanya mengalir.
    cuma ada kesalahan sedikit karena pas dialog ada yang nggak di kasih kutip.

    itu Lili galau, kasih ke saya aja biar nggak galau lagi
    ehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi makasih ya koreksinya Bang Ara, yach maklum aku revisinya cuma sekali doang, dah kebelet buat diposting aja,hehe, maafkan ane :)

      Lili yang mana, kan ada dua? Yang unyu2 ma yang udah remaja...nah lo galau sendiri kan jadinya,hihi :)

      Delete
  2. Hmm, aku mah baca aja .. soalnya tambah kesel aja :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untung bukan aku mah apa atuh, hihihi :)
      Loh, kuk kesel sih...??? :D Makasih dah mampir :)

      Delete
  3. Hai arief, makasih yah telah berkunjung di blog saya. Dan telah menambahkan blog saya ke dalam list friend-mu. Mari berteman :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, makasih juga mbak Dewi dah mau berkomentar :) Oke, mari berteman dan saling berkunjung :)

      Delete
  4. ceritanya keren. Ngena banget :)
    aku jd terbawa suasana :D hehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah makasih makasih mbak Wulan :) Habis ini tak mampir ke Blog mbak Wulan, maap kemarin2 lum bisa mampir :)

      Delete
  5. Hai kak! Makasih udah mampir ke blog aku :)
    BTW, di tunggu part berikutnya. Ide ceritanya seru! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya makasih juga Alvi. Part berikutnya lagi digodok di otak,hehe :) Sabar yawh :) Makasih udah berkunjung :)

      Delete
  6. ada yang galau ini, semoga gak patah hati saja hehe
    lanjut cerita bersambungnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmmm patah hati gak yawhhh....masih rahasia mbak Susi, hihi :)

      Delete
  7. Sempet spotjantung pas bagian Lili mau masuk ke kamar kak Andi dan yg ada di pikirnya gendruwo dan apalah-apalah itu. Suasananya ngena banget :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untung aku nulisnya siang hari, kalau malam kayaknya juga bakalan spot jantung kebawa suasana hehe :) Makasih Trisya udah berkunjung :)

      Delete
  8. aku mah apa atuh cuman di baca doank soalnya takut ikutan galau, hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau galau kan ada CitaCitata obat galau, he :)

      Delete
  9. http://www.percetakan-continuousform.blogspot.com, http://www.percetakan-sinarbuana.com

    ReplyDelete
  10. Replies
    1. Iya, makasih ya teman dah mau mampir dan baca :)

      Delete
  11. Jadi galau di buatnya ya gan!. Mantap storynya gan!

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe, makasih, jangan lupa mampir lagi mbak Ida :)

      Delete
  12. Makasih ya kak, udah ngunjungin blog aku + naruh nama aku di list temen kakak haha :))

    Aduh, gak baca lagi deh, udah galau eh pas baca cerbung ini malah tambah galau hihi

    ReplyDelete
  13. Hehe makasih Rara dah mau baca :) Uppss, jamannya sekolah emang kebanyakan galau yah :)

    ReplyDelete