Tuesday, October 27, 2015

CERPEN : CONFESSIONS OF BROKEN HEART

Rambutnya lurus panjang hampir menyentuh pinggang. Ketika kepalanya menoleh, gerai lembut helaian rambutnya tanpa didahului oleh aba – aba pun dengan sigapnya mengikuti tolehan arah kepala wanita itu. Dengan memakai rok berukuran sebatas lutut, tungkai indahnya kelihatan sangat menawan, mencuri pandang banyak mata lelaki yang berseliweran di sekelilingnya. Dengan tinggi diatas 170 cm, ukuran tubuhnya kelihatan sangat menonjol diantara para pengunjung mall. Karena memakai sepatu high heels, dia menepakkan satu kakinya dengan hati - hati ke sebuah tangga eskalator yang berjalan otomatis dan disusul dengan kaki satunya ketika merasa pijakan kaki pendahulunya sudah mantab. Tangan kirinya, sembari menenteng tas plastik berisi beberapa botol kaleng minuman bersoda, jarinya pun berpegang erat pada gagang tangga eskalator. Sementara tangan satunya memegangi erat tas pinggang yang bergelayutan seperti ayunan pada bahu kanannya. Sebelum landasan eskalator yang dipijaknya menyambangi lantai atas, dia menoleh pada jam digital yang dikenakan pada pergelangan tangan sebelah kanan. Saat itu waktu menunjukkan pukul 18.30.

Sebuah tempat duduk didesain seperti batang pohon dengan panjang kurang lebih 2 meter dilapisi sofa bermotif daun terletak di depan rentetan ruko – ruko pada lantai 3 sebuah mall. Kurang lebih ada 10 buah kursi dalam satu lajur. Memang penempatan kursi – kursi itu sengaja dialokasikan di depan banyaknya ruko dengan tujuan supaya pengunjung mall beristirahat seraya disajikan aneka barang belanjaan yang bertebaran di kaca – kaca etalase di depannya supaya menarik kemungkinan minat pengunjung untuk membelinya, suatu letak kursi yang sedemikian rupa dengan dilandasi sebuah strategi marketing.

Menginjak lantai tiga, dan terbebas dari tangga eskalator, pandangan wanita itu langsung tertuju pada deretan kursi – kursi umum untuk pengunjung berdesain batang pohon. Masih tetap sama seperti 6 tahun yang lalu, tiada perubahan, batinnya dalam hati dan kemudian dia melangkah menghampiri salah satu kursi yang kosong.

Ketika menduduki kursi, dan menaruh tas plastik berisi minuman disampingnya, pandangannya terpaku pada salah satu etalase ruko didepannya. Oh, dimana stand assesoris wanitanya? Batinnya menanyakan ketiadaan toko assesoris wanita karena yang terpampang di hadapannya sekarang ini adalah toko alat – alat kesehatan. Namun itu tak jadi masalah baginya, wajar karena seiring waktu berjalan, segalanya akan berubah. Dia hanya bersyukur bahwa kursi – kursi umum tempatnya duduk saat ini masih tidak berubah seperti dahulu kala.

Bunyi desahan seperti ular tercipta saat wanita itu membuka penutup minuman kaleng bersoda yang dia ambil dari dalam kantong plastik belanjaannya. Diteguknya beberapa kali minuman kaleng yang kini melekat pada moncong bibirnya yang masih merona karena lipstik dan tenggorokannya kini dibasahi oleh air berkarbonasi, menyebabkan sendawa lega setelahnya. Dia mendadak tersentak melihat tanda pengenal identitasnya masih menempel di jas pakaiannya di bagian dada sebelah kanan. Linda Dwingingsih, sebuah nama yang tertera pada identitas dirinya dan sebuah informasi jabatan sebagai teller bank swasta. Mengetahui itu Linda mencopot identitas pengenalnya dan memasukkannya ke dalam tas yang masih bergelayutan di bahu kanannya.

Kurang lebih satu jam, plastik belanjaan yang berada di sebelahnya kini seolah sudah menjadi tempat sampah yang menampung 4 buah kaleng minuman bersoda yang sudah tak berisi. Satu kaleng masih ditangan Linda digenggam oleh kedua telapak tangannya. Sebelum tegukan terakhir, dirinya memandang tajam ke arah toko alat – alat kesehatan yang berada didepannya. Namun dia mengurungkan untuk meminum habis beberapa teguk terakhir air soda kaleng dalam genggamannya. Perutnya menjadi panas setelah menghabiskan 4 buah kaleng minuman soda sebelumnya, dia merasa sudah tak kuat lagi untuk minum. Mendadak saja emosinya membuncah, tanpa sadar dia meremas erat kaleng dengan kedua telapak tangannya seolah kaleng itu adalah seekor mangsa yang dililit erat oleh seekor ular anaconda.

Linda kembali melirik jam yang melingkar pada pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul 19.30. Tanpa sadar dirinya sudah menghabiskan satu jam lebih hanyut dalam lamunan sambil menghabiskan hampir 5 buah kaleng minuman bersoda. Dia kembali bersendawa, kali ini suara sendawanya agak keras, hampir tak bisa ditahan. Sesuatu gejolak seperti gelembung - gelembung oksigen reaksi minuman berkarbonasi dalam tubuhnya memaksa untuk keluar dari tenggorokannya, menyebabkan kontraksi hebat di dadanya dan menjalar ke rongga mulutnya dan akhirnya menghasilkan suara sendawa parau yang hebat. Tidak ada orang yang lewat lalu – lalang didepannya memperdulikan bunyi sendawa keras yang memalukan itu. Entah kenapa perasaannya menjadi lega setelahnya. Dia memasukkan botol minuman soda yang bentuk kalengnya sudah terkoyak akibat remasan kedua telapak tangannya ke dalam plastik disampingnya, mengikat kedua ujungnya sehingga menimbulkan bunyi kemresek layaknya suara radio yang kehilangan frekuensinya dan membuang plastik berisi 5 botol kaleng itu ke dalam bak sampah tak jauh dari tempatnya duduk. Penutup sampah bertuliskan non – organik bergoyang – goyang seperti ayunan setelah buntalan plastik berisi kaleng minuman itu dimasukkan ke dalam oleh Linda.

Ketika kembali beranjak duduk, Linda mengeluarkan smartphone-nya dari dalam tas. Dari menu utama, dia membuka gallery, dan memilih salah satu folder dilabeli dengan judul My Heart Beat. Ada sekitar 1000 an foto lebih di dalam folder tersebut. Linda menggeser – geserkan jemarinya ke atas dan ke bawah di touchscreen layar smartphone-nya seolah memilah – milah salah satu foto yang baginya spesial. Ketika tangannya berhenti memilah, jarinya menekan salah satu foto. Setelah di klik, ukuran thumbnail foto tersebut membesar. Disitu terlihat dirinya berada pada sebuah pantai berdua dengan seorang lelaki. Dengan berlatar kondisi matahari terbenam dan posisi mereka berdua bergandengan tangan membelakangi pantai diiringi suasana sunset yang begitu indah serta tangan mereka masing – masing menggenggam sebuah terompet, maka bisa dijelaskan bahwa dalam foto itu Linda menghabiskan malam tahun baru bersama kekasihnya. Entah kapan tepatnya momen tersebut, namun bisa ditebak 1 atau 2 tahun yang lalu sebab dalam poto tersebut ukuran rambut Linda belum sepanjang sekarang ini.

Tak puas hanya dengan memandangi satu poto, Linda kembali memilah – milah banyaknya poto dalam gallery tersebut dan kembali menekan salah satu yang dianggapnya mempunyai makna khusus. Kali ini, foto yang ditampilakan adalah ketika dirinya berada dalam sebuah kamar rumah sakit. Dalam balutan sebuah infus yang melekat di pergelangan tangannya, memakai baju pasien, dan bersandar pada dua buah bantal yang disusun dibelakang kepalanya yang membuat posisinya agak tegak, dirinya tersenyum manis, disampingnya, terduduk seorang lelaki yang tidak berbeda dengan yang menemaninya saat perayaan malam tahun baru di pantai. Hanya saja wajah lelaki itu terlihat lebih muda, sama halnya dengan Linda. Mungkin poto ini diambil 3 sampai 4 tahun yang lalu dimana posisi mereka berdua saat itu sedang menjadi seorang mahasiswa.

Tanpa disadari, waktu sudah menunjukkan pukul  20.30. Aktivitas yang dilakukan Linda sedari tadi hanyalah memilah – milah foto, mengamatinya dan memutar ulang memori yang tersimpan dalam foto tersebut. Hingga pada posisi paling buncit pada gallery foto tersebut, ketika Linda membukanya, terpampang sebuah gambar bando bermotif tokoh kartun Mickey Mouse tergeletak di sebuah kursi yang tak lain adalah kursi yang didudukinya saat ini. Matanya mulai berkaca saat memandangi foto tersebut. Mendadak, imajinasinya terbawa ke memory 6 tahun yang lalu. Tiba – tiba saja, rambutnya menjadi pendek hanya dibawah batas kupingnya. Badannya menjadi lebih kurus namun tetap terjaga kemolekannya. Tubuhnya saat ini dibalut dengan seragam anak Sekolah Menengah Atas. Saat itu,  Linda terduduk dengan posisi wajah cemberut. Karena tinggi tubuhnya belum setinggi saat ini, kakinya masih menggantung saat dirinya duduk dan kedua buah tungkai kakinya yang saat itu tak kalah indah dengan saat ini tak mau berhenti bergerak manju mundur menggambarkan jelas kekesalannya akan sesuatu.

Mengikuti sebuah kontes modelling tingkat Kabupaten bertema Disney, Linda sangat sebal ketika mendatangi salah satu ruko assesoris di mall langganannya ketika mendapati bando berkonsep Mickey Mouse incarannya sudah ludes hari itu juga. Padahal, jauh hari Linda sudah memesan baju rancangannya sendiri berkonsep Mickey Mouse dan hanya bando itulah satu – satunya yang ideal dengan rancangan kostum pesanannya untuk dibawa tampil diatas catwalk. Linda tidak tahu lagi harus bagaimana saat itu mengatasi kefrustasiannya. Hingga seseorang yang duduk disampingnya tiba – tiba saja mengeluh kesahkan perilaku Linda yang tak bisa  diam menggerak – gerakkan kakinya ketika gelisah.

“Hei, bisakah kau diamkan kakimu itu..?” Desah lelaki disamping Linda sambil mengamati kaki Linda yang saat itu juga berhenti bergerak layaknya roda yang berhenti berputar ketika di rem mendadak.

“Apa urusanmu bilang begitu..,” gertak Linda memandangi lelaki disampingnya. “Aku sedang sebal lagian kau tahu!!”

“Yah..dan aku sedang patah hati disini,” tukas lelaki itu. “ Dan aku terganggu dengan perilaku anehmu itu menggerak – gerakkan kaki seperti laba – laba saja”

Linda terdiam sejenak. Sepertinya dia sedang terhenyak mengetahui lelaki disampingnya sedang patah hati. Bagaimana rasanya patah hati itu Linda tidak benar – benar tahu. Dia belum pernah mempunyai pacar sebelumnya. Hanya saja, masalah yang menimpa lelaki di sampingnya yang sepertinya juga seumuran dengan dirinya menarik minatnya terhadap sesuatu yang baru seperti patah hati.

“Emmhh...kamu dicampakkan, diselingkuhi atau bagaimana...”Tanya Linda dengan penuh kehati – hatian karena dia sadar sudah seharusnya tak ikut campur urusan hati seseorang namun bagaimanapun pertanyaan itu terceplos begitu saja dari mulutnya. Linda agak was – was kalau pertanyaannya malah membuat lelaki disampingnya semakin tidak enak perasaannya karena si lelaki tak langsung menjawab. Namun tiba – tiba saja lelaki itu menjelaskan semuanya secara detail, bahwa dia ingin memberikan surprise kepada kekasihnya yang berulang tahun. Jadi dia membelikan kado pada ulang tahunnya di mall ini karena tahu pacarnya akan datang berbelanja bersama ibunya hari ini. Namun ternayata itu hanya alasan saja ketika lelaki itu mengetahui bahwa pacarnya jalan – jalan ke mall bukan berbelanja bersama ibunya melainkan jalan dengan lelaki lain satu sekolahannya.

Lelaki itu kemudian mengeluarkan sebuah kotak persegi yang sudah dibalut dengan kertas kado dari dalam tasnya. Memutar – mutar dengan jemarinya sambil memandanginya dengan tatapan nanar. Langsung tiba – tiba saja lelaki itu melemparkan bingkisan kado tersebut ke arah Linda, dan seperti penjaga gawang, Linda dengan sigapnya menangkap bingkisan kado tersebut dengan rasa terkejut.

“Uppss...apa – apaan ini???” Ketus Linda sembari memegang erat bingkisan kado yang baru saja meloncat dan hinggap di tangannya seperti kodok.

“Ambil saja, itu sudah tak berarti lagi bagiku,” jelas lelaki itu dan langsung saja dia berdiri, membopong tas punggungnya, meninggalkan Linda pergi begitu saja.

Suatu kebetulan atau bukan, setelah Linda membuka bingkisan tersebut, ternyata di dalamnya adalah sebuah bando bermotif Mickey Mouse yang dia inginkan. Linda bingung bagaimana menggambarkan perasaan bahagianya saat itu. Dia mendapatkan bando yang diinginkan namun dari seseorang yang sedang mengalami patah hati. Linda langsung memotret bando tersebut dengan kamera handphone-nya, sebagai momen ajaib dalam hidupnya.

Dalam bingkisan kado tersebut terselip sebuah surat yang berisikan undangan makan malam untuk merayakan ulang tahun sang pacar. Bagaimanapun, Linda ingin mengucapkan terima kasih karena pertemuan tak sengajanya dengan lelaki itu membantunya mendapatkan bando yang dia inginkan untuk kontes. Maka, sepulang dari mall, Linda langsung menghampiri alamat restoran yang dibooking lelaki tadi untuk sang pacar. Disana kepada pusat pelayanan dia menanyakan siapa identitas pembooking tempat dinner pada surat undangan itu dan akhirnya mendapatkan nomer handphone lelaki tersebut. Ketika menerima telepon dari Linda awalnya si lelaki yang akhirnya diketahui bernama Anton itu agak lupa kepada Linda dan bingung mengapa seorang gadis menelponnya dan tiba – tiba saja mengucapkan terima kasih karena berkat bando yang diberikannya, dia jadi memenangkan kontes modelling dengan busana rancangannya. Namun setelah penjelasan lebih rinci, akhirnya Anton mengingat Linda. Setelah itulah, dari pertemuan tak disengaja, komunikasi lewat percakapan, akhirnya hubungan mereka lambat laun terjalin menjadi sebuah kekasih.

Sebuah balon meletus yang suara ledakannya memekakkan telinga dan disusul erangan seorang balita yang menanggapi letusan balon tersebut dengan tangisan yang tiada berhentinya. Linda, tersentak hebat berbarengan dengan letusan balon yang tak jauh dari  lokasinya saat duduk. Letusan itu membuyarkan lamunannya akan masa lalunya. Dia lalu menoleh kepada anak kecil yang menangis. Merasa kasihan terhadap anak balita tersebut yang sekarang sedang ditenangkan oleh orang tuanya. Kemudian dia menoleh ke arah samping kanannya. Jantungnya berdebar kencang mendapati Anton yang masih berumur 17 tahun duduk disampingnya. Namun perlahan – lahan sosok itu memudar dan hilang. Linda baru sadar, dia masih terbawa dalam emosi perasaannya. Dengan tangan yang sedikit agak bergetar, dia mengusap kedua kelopak matanya, menyeka air mata yang sepertinya akan menetes.

Linda kembali berkonsetrasi kepada smartphone-nya. Masih, tatapannya belum beranjak pada ribuan foto yang terpampang dalam layar kaca smartphone-nya yakni berbagai kenangan yang dia buat bersama Anton. Kemudian dia mendongakkan arah pandangannya ke depan. Masih tetap toko peralatan olahraga, bukan toko assesoris seperti 6 tahun silam. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, Linda sadar bahwa seiring berjalannya waktu, segalanya akan berubah, bahkan sebuah janji suci berlandaskan komitmen yang kuat serta ikrar kesetiaan sepanjang waktu pun tak dapat disangka bahwa semuanya itu juga akan goyah dan berubah seiring berjalannya waktu. Kelopak matanya kembali dibasahi oleh air mata. Kali ini dia tidak menyekanya, dia membiarkan air mata itu tumpah dan mengalir membasahi pipinya. Untuk apa batinnya dalam hati memendam rasa tangis ini jika memang harus diluapkan.

Kembali konsentrasinya tertuju ke arah layar smartphone. Kini genggamannya semakin erat mencengkram smartphone. Tangan satunya, dengan sedikt gemetar, memilih pilihan tandai semua pada seluruh foto dalam folder My Heart Beat. Setelah itu, berbarengan dengan dirinya memejamkan mata dan air mata yang berlinang membasahi pipinya, jarinya memilih pilihan hapus semua yang ditandai. Dan setelah sekian detik ketika dia membuka matanya, sudah tidak ada lagi satupun poto yang terpampang dalam folder My Heart Beat. Terhapus sudah segala kenangan foto dirinya dengan Anton.

Setelah memasukkan smartphone ke dalam tasnya. Linda beranjak berdiri. Saat itulah beberapa wanita dengan tinggi tubuh setara dengan dirinya berjumlah 5 orang sambil berbincang – bincang melewati dirinya diikuti beberapa fotographer dan penata rias serta busana dibelakangnya. Mereka adalah para model yang sedang ingin melakukan persiapan pentas maupun  pengambilan gambar. Setelah melewati Linda, salah satu dari kelima model tersebut menoleh ke arah Linda. Memerhatikan dirinya sejenak yang mungkin bagi model tersebut sosok Linda memiliki potensi yang sama seperti dirinya dalam berkarir di dunia modelling. Seorang fotographer dibelakang model tersebut juga menoleh ke arah Linda ketika penasaran mengapa salah satu modelnya mengamati dirinya terus – menerus. Tak lama kemudian rombongan itu sudah menghilang menuruni tangga eskalator.

Setelah kejadian barusan, dirinya menjadi semakin sedih. Seharusnya Linda sudah menjadi model dan perancang busana saat ini menggapai impiannya. Bukan sebagai seorang teller di salah satu bank swasta. Hanya karena perkataan, tolong, jangan memilih untuk menjadi model sebagai karirmu dimasa depan. Tahukah hatiku selalu cemburu jika banyak pasang mata melihatmu berlenggak – lenggok di atas catwalk?! Begitulah, suatu hari di masa lampau Anton mengungkapkan perasaannya kepada Linda. Namun apa yang didapatnya ketika dia akhirnya memilih untuk masuk di jurusan akuntansi dengan merelakan untuk tidak masuk ke Institut Seni demi menjaga perasaan Anton? Tak hanya kehilangan mimpinya, dia kehilangan dua sekaligus, cita – cita, dan Anton yang tak disangka seolah menghilang begitu saja bagai ditelan bumi ketika apapun yang berharga Linda relakan untuk menjaga hati dan perasaannya.

Matanya semakin memerah. Namun kali ini Linda menahan agar air mata itu tak membasahi pipinya. Dia menghela nafas panjang, menyisir rambutnya yang panjang ke belakang agar rapi kembali. Waktu semakin berjalan ke depan. Segalanya selalu berubah. Sesuatu yang sudah terjadi tak dapat dirubah kembali. Kini dia harus menjalaninya dengan penuh ketabahan hati. Ketika baru sekali melangkah, dia memberhentikan diri. Dia sadar masih ada sesuatu bagian dari masa lalunya dan Anton yang belum dibuangnya selain foto – foto kenangan dalam smartphone-nya. Dia menengadahkan jemari telapak tangan kirinya membentang ke arah atas sejajar dengan pandangan wajahnya. Dilihatnya sebuah cincin yang masih bersemayam di telunjuk tengahnya. Mungkin, setahun yang lalu dia sangat bahagia menerima cincin itu sebagai tanda ikatan hubungan mereka untuk ke jenjang yang lebih serius yang dipakaikan oleh Anton kepada Linda sebelum Anton berangkat bekerja ke luar Jawa menjalani proyek di Kalimantan.

Linda teringat ketika Anton melemparkan bingkisan kado kepada dirinya dahulu kala sambil berkata, “ itu sudah tak berarti lagi bagiku.” Dan begitu pula saat ini, cincin yang dikenakannya itu juga sudah tak mempunyai nilai, tak berarti bagi dirinya dan siapapun. Linda dengan gesit mencopot cincin itu dari telunjuk tengahnya. Kemudian meletakkannya ke bangku dimana mereka pertama kali bertemu 6 tahun  silam. Selamat Tinggal, dan terima kasih sudah pernah singgah dijemariku, batin Linda dalam hati, seolah cincin itu mempunyai indera pengecap untuk sanggup membalas keluh kesahnya. Setelahnya, Linda berjalan meninggalkan cincin itu yang tergeletak sendirian, dalam sepi, tanpa pernah menjadi pengikat siapapun dan tanpa pemilik yang pasti.
  
TERIMA KASIH              

11 comments:

  1. Aku baca ini jadi inget temen ku waktu SMA, bela belain masuk IPS gegara pacarnya anak IPS dan belum sampe kelas 12 juga udah putus.
    Terus ada juga sahabatku pilih jurusan kesmas karena ikut ikutan pacarnya.. sekarang dia nikahnya juga sama orang lain hehehe..
    Aku jadi mengambil kesimpulan sendiri kalo pacaran itu memang gak baik, bisa menghancurkan impian.. hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, bukan pacarann yang gak baik arum, cuma jaman aja sekarang yang tambah edan, sehingga pacaran agak menyimpang fungsinya :D . Pacaran dahulu kala cuma kirim - kiriman surat aja setianya bisa dijagakan pisah bertahun - tahun demi meraih impian malahan, sekarang anak SD tinggal BBM aku suka kamu, trus pacaran, trus 2 hari putus, udah edan emang dunia lama - lama hehe :) Pacaran itu pilihan, kalau ikut syariat ya ga boleh pacaran, Ta'aruf lo gak salah istilahnya, kakakku ada yang jalani gtu. Tapi kalau memilih pacaran, yah sebaiknya disiapkan sedini mungkin edukasi formal untuk pendirian dan moral serta iman yang kuat, agar nantinya kalau pacaran itu bukan suatu hal yang main - main, karena kita memegang sebuah perasaan seseorang disini.

      Delete
  2. wow menyentuh sekali jagoo bikin cerpen nih masbro

    ReplyDelete
  3. Nice posting! Rumah produksi sepatu bisa model sendiri satuan, borongan, pria, wanita, dewasa, anak, pakai brand sendiri. http://rumahproduksisepatu.blogspot.com

    ReplyDelete
  4. baca cerpen ini jadi keinget tugas akhir jaman SMA.. bikin cerpen yg mirip dengan ini.. tempat duduk dan sebuah kenangan.. hahaha
    jadi flashback lah aku :D

    ReplyDelete
  5. Cerpennya kisah nyata nie soB kelihatannya. Tidak jauh dari kehidupan sang Penulis :-). Tapi menarik banget, jadi penasaran baca sampai akhir meski panjang menurut saya, gak kayak identitasnya (Cerita Pendek) :-)

    ReplyDelete
  6. Keren banget blog kakak. inspiratif cerpennya.


    Yuk kunjungi video aku main piano https://www.youtube.com/watch?v=PJPqzb5k8lw

    ReplyDelete
  7. Chord Gitar @ Wah agan Flashback :D

    Rohmad @ terima kasih bang, tapi masih proses belajar, belum jago :)

    Produksi alas kaki @ makasih dah berkunjung :)

    Ariani @ Hihihi jadi pingin baca malahan cerpenmu yang bisa kebetulan sama itu :)

    Batik Bojonegoro @ Hihihi kepanjangan ya gan, maaf :D Suatu saat tak bikin yang pendek lok gtu :) Ini cuma fiksi agan, ga ada keterkaitan dengan penulis :)

    Musik Asik @ Saling berkunjung yawh :)

    ReplyDelete
  8. my heart beat nama foldernya
    dan 5 kaleng minuman, stres banget mbaknya
    cincinnya kok ditinggal begitu saja hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gapapa, cincin dari tukang PHP biasanya murah wkwkwkw :D

      Delete