Monday, May 11, 2015

CERBUNG HOW CAN BE PART 3

Siang ini memang tak sepanas biasanya. Agak – agak mendung cuacanya. Apakah sudah mendekati musim penghujan tanyaku dalam hati. Angin yang biasanya sepoi – sepoi kini sedikit berubah lebih kencang. Membawa serta partikel – partikel debu berhamburan tak karuan. Aku menutup hidungku dengan telapak tanganku sembari melangkah menyusuri jalanan aspal yang diapit oleh bentangan sawah yang luas. Aku biasa melalui rute persawahan ini jika sepulang sekolah. Memang ada jalan lain yang lebih dekat ke rumahku, namun suasana jalanan yang sunyi dan udara segar persawahan adalah alasannya aku menjadikannya rute favoritku.

Sayangnya kesunyian kali ini terganggu oleh sepasang siswa dan siswi yang sedang asyik berjalan berduaan di depanku. Selama sebulan ini setelah menapakkan kakiku di bangku SMP, baru kali ini aku menemui ada siswa lain yang juga melewati rute persawahan favoritku. Tapi aku yakin mereka melewati rute ini bukan karena mereka menyukai suasananya maupun alasan lainnya. Bagiku mereka hanya memanfaatkan suasana sepi rute ini untuk berduaan. Aku tidak mengenal mereka berdua, tapi aku tahu bahwa mereka adalah kakak seniorku kelas tiga di sekolah.

Umurku memang baru 13 tahun. Masih terlalu kecil untuk bisa merasakan apa yang mereka berdua rasakan saat ini didepanku. Apakah mereka berdua saling mencintai hingga saking eratya tangan mereka saling menggenggam ketika berjalan dan saling menebarkan senyum? Aku juga belum bisa menjawabnya dengan pasti. Yang kutahu apa itu cinta adalah di drama – drama Korea yang aku ikuti setiap malamnya. Tapi kebanyakan yang aku rasakan setelah menonton drama tersebut adalah aku malah jatuh cinta dengan tokoh lelakinya karena memang mereka tampan dan aku mencintai dalam artian sebatas mengidolai seorang tokoh. Untuk mencintai seseorang dengan sepenuh hati, aku belum pernah mengalaminya. Intinya karena aku belum pernah menyukai seseorang sekalipun. Jadi aku sengaja memelankan langkahku, mengamati dua kakak kelasku yang sedang berjalan mesra seakan memamerkan keromantisan mereka. Diam – diam mencari tahu letak magnet apa yang mampu menyatukan mereka seperti ini? Apakah pertemuan yang tak disengaja seperti di adegan drama – drama yang selama ini aku lihat? Kesamaan hobi? Pandangan pertama? Saat ini aku mengernyitkan mata untuk serius mencari tahu penyebabnya. Sayangnya bunyi kringgg!! Tiga kali bel sepeda dari belakang mengagetkan dan membuyarkan observasiku sehingga dengan geram aku menoleh ke belakang.
“Hei, daritadi aku lihat jalanmu seperti tikus pelan sekali. Apa kamu mengutit mereka berdua diam – diam dari belakang?” Ujar kak Andi sambil menghentikan kayuhannya ketika menaiki sepeda buatan Belanda model kuno milik Ayahku.

“Bukan urusan Pak Guru, “ Kataku dengan kasar, tapi kak Andi langsung menimpali, “ hei, panggil saja kak Andi seperti biasanya.  Tak usah memakai formalitas di luar sekolahan.”

“Oke, baiklah, “ kataku mengangguk patuh layaknya siswa di kelas. Seketika itu juga, entah darimana hembusan angin mendadak menjadi kencang. Mataku kemasukan debu, sehingga aku menguceknya beberapa kali dan menjadikan kelopak mataku basah seperti orang yang menangis.

“Ayo, naiklah, “ kata kak Andi sambil mendekatkan jok landasan tempat duduk belakang sepeda ke arahku. Kulihat kedepan, dua orang kakak kelasku juga mempercepat langkahnya untuk segera keluar dari area persawahan yang mengapit jalan panjang ini untuk segera sampai di desa seberang karena dirasa hembusan angin menjadi semakin tak beraturan. Mau tak mau aku menaiki sepeda, membonceng kak Andi dibelakang, karena jika memaksakanjalan kaki, kedua bola mataku ini bakalan menjadi lebih merah akibat terjangan debu yang menggeliat di udara.

“Kakak meminjam sepeda dari Ayah?” Kataku memulai pembicaraan saat diperjalanan.

“Iya, aku bangun kesiangan tadi Lili. Mungkin karena capek bersih – berih kemarin dan harus menyelesaikan laporan yang dikumpul di ruang kepala sekolah hari ini. Jadi kalau jalan kaki kurasa waktunya tak memadai,” jawabnya dengan pandangan mata berkonsentrasi ke depan.

“Oh iya kak, soal tadi....,” Kataku pelan dan seakan memohon.

“Soal tadi apa?” Tanya kak Andi penasaran dan sejenak menoleh ke arah mukaku yang memelas.

“Kejadian memalukan tadi saat aku tertidur di kelas dan mengigau keras – keras...tolong jangan diberitahukan tau ke Ayah ya..??”

“Hmmm....baiklah,”kata kak Andi pelan sambil berdehem. Mendengar itu aku senang karena kak Andi mau melakukan permintaanku.

Sesampainya di rumah aku langsung meloncat dari sepeda dan menuju halaman belakang. Kulihat Ratih, Mimit dan Ujang langsung berlari menuju ke arahku, seakan mereka sudah hafal dengan suara derap langkahku. Kupeluk mereka satu persatu. Kurasakan kerinduan mereka akan ketidakhadiran diriku meski hanya beberapa jam sehari saat kutinggal ke bersekolah. Tak lama kak Andi muncul dari belakang dengan menuntun sepeda kuno milik Ayahku.

“Lili, apa yang kamu lakukan?”

“Oh, kak Andi aku mau bermain bersama ayam – ayamku.”

Melihat kehadiran kak Andi, tensi si Ujang sepertinya sedang memanas. Rasanya si Ujang belum bisa melupakan kejadian perkelahian antara dirinya dengan kak Andi kemarin sore. Kulihat, tatapan Ujang menyorot tajam ke arah kak Andi. Begitu pula dengan Ratih dan Mimit yang sudah bersiap - siap dengan ancang – ancang mereka untuk menyerang. Melihat perilaku ayam – ayamku yang sedang naik darah, kak Andi sontak menelan ludah.

“Tenang – tenang...,” kataku sembari mengelus – elus kepala Ujang dengan lembut. “Dia sudah menjadi teman kita kuk.” Begitu mengatakan itu, reaksi Ujang berubah drastis, matanya mulai sayu dan tak menunjukkan ekspresi kemarahan lagi. Melihat perubahan pada Ujang, Ratih dan Mimit pun saling pandang tak percaya. Kuturunkan Ujang dari pelukanku, dan mereka bertiga berjalan menuju pinggiran sungai tempat biasanya kita bermain. Dan ketika kualihkan perhatianku ke kak Andi, kulihat dia hanya berdiri terpaku menatapku dengan pandangan aneh.

“Kenapa kak? Tanyaku kini yang dibuat penasaran dengan tingkah lakunya.

“Ah, tidak, hanya saja kenapa ayammu bisa sepatuh itu kepadamu. Aku hanya terkagum saja. Oh, ya kamu mau menyusul mereka bermain sampai sore seperti kemarin?” Tanya kak Andi dan aku menganggukkan kepala.

“Bukankah aku memberikan banyak pekerjaan rumah buat kelas kita? Dan besok harus dikumpulkan?”

“Ya, kak aku tahu, tapi......”. Sebenarnya aku ingin bilang kalau aku tidak suka Matematika, tapi rasanya tidak enak mengatakan hal itu kepada kak Andi yang kuliah di jurusan pendidikan matematika, dan sudah mau mengajar di kelasku. Namun rasa – rasanya kak Andi sudah paham dengan apa yang aku tahan untuk diutarakan dengan melihat sikapku seperti ini. Hal itu ditandai dengan ulangan mendadak yang diberikan oleh kak Andi siang tadi di kelas. Hanya aku saja yang hanya bisa menjawab 1 soal dari 10 soal matematika yang diujikan.

“Kalau kamu selalu tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah, lalu bagaimana nilai PR matematikamu bisa bagus semua?” Tanya kak Andi. Yah tentu saja kak Andi mencurigaiku. Mungkin dia sudah melihat sejarah daftar nilai milik Bu Laksmi.

“Aku biasanya menyalin jawaban dari Isabell kak, “ Jelasku. Pastinya kak Andi tahu siapa Isabell teman sekelasku. Hanya dia hari ini yang mampu paling cepat mengumpulkan soal ujian matematika yang diadakan mndadak oleh kak Andi dengan kesemua jawabannya tiada satupun yang salah.

“Oh, jadi begitu, “ kata kak Andi sambil berjalan menuntun sepeda melewatiku. Kubalikkan badanku dan kuperhatikan kak Andi yang saat itu juga menoleh kepadaku sambil berkata, “ kamu boleh belajar denganku jika mau malam nanti.”

######

Begitulah, kedekatanku dengan kak Andi dimulai. Hari itu awalnya aku bimbang untuk memutuskan apakah ingin belajar dengan kak Andi atau tidak. Perlu waktu satu jam untuk memutuskannya. Bahkan ketika sudah didepan pintu kamarku untuk keluar menuju kamar kak Andi lengkap dengan membawa  semua buku dan alat tulis, aku mendadak kembali lagi duduk di kasur untuk mempertimbangkannya lagi. Sungguh sesuatu hal yang konyol. Akhirnya, jam 9 malam aku menggedor kamar kak Andi untuk memohon mengajariku matematika. Kak Andi memarahiku karena selarut itu baru meminta untuk diajari. Tapi, bagaimanapun kegiatan belajar bersama tetap berlangsung hingga pukul 12 malam.

Kak Andi kadang kesal ketika mengajariku. Sudah dijelaskan dengan cara ini dan itu, tetap saja aku masih susah untuk menangkapnya. Kak Andi sempat geleng – geleng kepala, dan menanyaiku kenapa aku bisa sebegini lambannya dalam berhitung.? Aku tidak tahu harus menjawab apa, dan memang beginilah aku. Hasil belajar bersama malam itu ada hasilnya juga. Dalam seumur hidupku dari semua pekerjaan rumah pelajaran matematika, baru kali ini aku bisa mengerjakan setengahnya. Itu berkat bantuan kak Andi.

Pagi harinya, ketika ingin berangkat ke sekolah, sebelumnya aku ingin menyapa Ujang, Ratih dan Mimit terlebih dahulu. Ketika sampai di kandang, kulihat kamar kak Andi masih tertutup. Yang benar saja batinku saat itu ketika pintu kamarnya kugedor, kudapati kak Andi baru bangun tidur dan rambutnya masih acak – acakkan. Aneh rasanya jika seorang murid malah membangunkan gurunya di pagi hari. Namun aku paham mengapa kak Andi bangun kesiangan. Itu karena kesalahanku datang terlalu larut untuk memintanya belajar bersama. Padahal setelah itu kak Andi masih harus mengerjakan laporan yang harus dikumpulkan setiap hari di sekolah. Ketika kak Andi terburu – buru mencuci muka di kamar mandi, aku berlari ke gudang dengan kembali sambil menuntun sepeda kuno Ayah dan mengatakan pada kak Andi bahwa lebih baik berangkat berboncengan berdua agar dapat mengejar waktu. Dan mulai saat itu, setiap malam kami belajar bersama dan setiap paginya kami berangkat bersama pula berboncengan sepeda Ayah menuju sekolah.

Kedekatanku saat itu dengan kak Andi memberikan pemahamanku akan sifatnya. Aku jadi mengerti bahwa kak Andi sebenarnya orang yang sangat baik meski kadang dia menjadi garang jika menemui seseorang yang tak sejalan dengan pikirannya. Namun dia tak pendendam, dan anehnya selalu minta maaf kepada orang yang pernah membuatnya marah. Sama halnya ketika dia meminta maaf kepadaku ketika dirinya berbicara kasar karena dibuat marah oleh ayamku bernama Ujang. Harusnya dia tak perlu meminta maaf karena akulah yang salah selalu mengajak Ujang berman di bukan tempat yang semestinya.

Selain itu, aku juga jadi mengetahui bahwa kak Andi sangat suka dengan madu. Aku melihat banyak botol madu dikamarnya saat pertama kali mengantarkan makanan pada malam dimana kak Andi pertama kali menempati kost. Ternyata dirinya tak bisa lepas dari apa yang namanya cairan madu. Sejak kecil kak Andi sudah ketagihan dengan madu. Mau minum susu, teh, dia pantang menggunakan gula, dia selalu menggunakan madu sebagai pemanis. Pernah suatu malam ketika belajar bersama aku dibuatkan kak Andi sebuah roti tawar dengan olesan madu diatasnya. Rasanya sungguh enak dilidah. Ketika kak Andi menyakan apa kesukaannku, aku menjawab aku suka rumput laut kering. Anehnya kak Andi belum pernah merasakan apa itu rumput laut kering, jadi keesokan harinya kubawakan rumput laut Tokenoi dari toko langgananku. Ketika dia mencobanya, dia langsung memuntahkannya. Katanya rasanya tidak enak dan seperti plastik di lidah. Aku bawel saat itu ketika makanan kesukaanku dicemooh begitu saja. Tanpa sadar perilaku kami seperti kakak dan adik saja.

Selama ini aku tidak pernah merasakan kebahagiaan yang luar biasa jika bermain dengan teman – teman seumuranku. Rasa bahagia yang kudapat tak benar – benar bisa menandingi rasa bahagiaku jika bermain bersama Ujang, Rara dan Mimit. Namun ketika bersama kak Andi, entah mengapa jika bersamanya rasa bahagia yang kudapat bisa menyamai apa yang kurasakan ketika bermain dengan Ujang, Rara serta Mimit, dan kalau dipikir – pikir, mungkin lebih dan tak bisa tergambarkan dengan pasti.

Aku jadi teringat sewaktu sepulang sekolah melewati rute favoritku dimana ada dua orang kakak kelas yang dengan mesranya berjalan berduaan. Saat itu aku belum bisa mencari tahu apa penyebab mereka berdua bisa saling menyukai seperti itu bagaikan magnet yang disatukan. Tapi sekarang aku mengerti bahwa mereka disatukan karena kebersamaan yang terjaga. Kebersamaan itulah yang membuat magnet yang mempersatukan mereka berdua. Beruntung mereka berdua mempunyai umur yang sama, sehingga tak ada beban ketika menyatakan perasaan masing – masing. Sedangkan aku, ketika menyukai kak Andi, aku hanya menganggap rasa suka ini sebatas kakak dan adik saja meskipun sebetulnya dari lubuk hatiku yang terdalam aku menentang derajat batasan itu. Yang aku mau tidak ada batasan yang membelennggu perasaan ini. Di saat beberapa rumus matematika mampu aku kuasai untuk mengerjakan soal – soal dan pekerjaan rumah. Muncullah persoalan baru yang mungkin akan sulit ditentukan rumusnya. Yakni perasaanku mengenai kak Andi yang rumusnya tentu saja tak akan mudah ditemukan dalam satu malam saja untuk mengetahui apakah lebih baik jawabannya menyukainya dalam batasan sebagai kakak atau malah mengarah pada jawaban sebagai perasaan...cinta. 

ARIEF W.S ( 11 - 05 - 2015 )
TERIMA KASIH

14 comments:

  1. Keren mas cerpennya. terus berkarya dengan cerpennya mas :)

    ReplyDelete
  2. Wah kak Andinya apa gak tahu ya ada yang naksir ini hehe
    makin panjang saja ceritanya sekarang ini lanjutan kemarin ya

    ReplyDelete
  3. waa tokohnya baru 13 tahun, masih unyuk unyuk dong ya :D

    ReplyDelete
  4. kok kayak aku ya, setiap kali nonoton drama korea jadi jatuh cinta dengan pemeran cowoknya kwkwkwkw

    ReplyDelete
  5. Obat Herbal Scabies @ Makasih yawh Bang dah nyempetin berkunjung :)

    Dedaunan Yogya @ Iya ini lanjutan yang kemarin Mbak Suzy. Part lanjutannya masih diotak, jadi kak ANdi sadar atau gak ada yang nyukain masih rahasia :)

    G. Pratiwi @ Hehe Tiwi aja yang udah merried masih unyu2 kuk :D

    Amri Evianti @ SSttttt entar ada yang cemburu loh kamu suka ma tokoh Dramanya, hehe :D

    $$ Makasih Semua Yang Udah Mampir $$

    ReplyDelete
  6. Obat Herbal @ Terima kasih mas :)

    ReplyDelete
  7. semangat menulis kawan, semangat ngeblog :)

    ReplyDelete
  8. Ini kak Andinya sengaja kali ya, bikin anak kecil jadi jatuh hati sama dia
    ckckc

    keren bang ceritanya, penulisan kalimatnya juga bagus walau agak panjang ya paragrafnya. Nggak bosen juga sih bacanya

    ReplyDelete
  9. Keren ceritanya mas.
    Dalam diamnya, Lili mengagumi seseorang :) dan itu kak Andi. Orang yg ada dekat disekitarnya. aaaa bagus deh.
    Lanjutin lagi dong,
    penasaran gimana endingnya nanti :D hehee

    ReplyDelete
  10. Tutorial Software @ Makasih dah mampir, semangat juga buat abang yawh :)

    Ara Anggara @ hehe...ya sebetulnya kak Andinya gak ada niat buat bikin suka atau gimana, namanya Lili juga masih anak kecil yang polos dan belum mengenal apa itu cinta. Maap lo kepanjangan paragrafnya mas Anggara, emang apa yang ada di otak kudu dicurahkan semuanya sih biar plong. Makasih loh dah mau baca mas :)

    Rahayu Wulandari @ Eh, makasih loh Wulan dah mau mampir baca, syukur kalau ternyata kamu suka ma ceritanya :) Iya bakalan aku lanjutin, tapi maaf kalau misal agak lama, soalnya rada - rada sibuk juga hihi :) Iya, nanti pasti aku bikin endingnya yang bagus pokoknya :)

    Obat Kanker @ Makasih Mas :)

    ReplyDelete
  11. mau komen dulu ahh baru deh baca hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi.....bener loh mbak Ifah abis komen dibaca ceritanya ..he

      Delete