Tuesday, April 21, 2015

CERBUNG HOW CAN BE PART 2

Aku mencari  si Ujang. Sudah kutelusuri di kandangnya, aku singkap dedaunan lebat di kebun yang biasa menjadi tempat berteduhnya, kudatangi pinggiran sungai yang menjadi tempat tidur santainya di atas bebatuan, namun tak kunjung kutemukan tanda – tanda kehadiran sosok dirinya.

“Lihat, kemana lagi kali ini si Ujang menghilang,” Kataku kepada kedua buah ayam yang masing – masing kudekap di sisi kanan dan kiri tubuhku. Satu yang sebelah kiri bernama Ratih, dan satunya bernama Mimit.

Untuk yang kesekian kalinya si Ujang menghilang dan untuk kesekian kalinya juga dia terlalu lama untuk ditemukan. Aku sedikit khawatir mengenai dirinya, takut kalau – kalau dia nyasar ke dunia antah berantah di luar sana. Tersesat tanpa arah yang jelas. Baginya mungkin bukan hal yang perlu dikhawatirkan karena dia hanya seekor ayam. Tapi bagiku akan menjadi hal yang menyedihkan karena dia satu – satunya ayam jago yang kusayang.

Karena hari sudah sore, maka aku memutuskan untuk pulang dan menghentikan pencarian. Terlebih dahulu aku mampir di bagian belakang  halaman rumah untuk memasukkan Ratih dan Mimit ke kandangnya. Disitu aku juga berharap Ujang sudah berada disana. Ketika sampai di halaman belakang, aku terkejut melihat pintu kamar kost yang berada beberapa meter di depan kandang ayam terbuka. Di halaman terasnya yang kecil, tergeletak sepasang sepatu sekolah lelaki dengan kaos kakinya yang berserakan di lantai.

Ayahku memang membuka usaha kost – kost san di halaman samping dan belakang rumah. Kebanyakan yang menghuni kost  adalah mereka para perantau dari luar kota yang bekerja di kota Malang yang letaknya tak begitu jauh dari desa dimana tempatku tinggal. Intinya letak kost milik ayahku sangat strategis. Sudah lebih dari setahun satu – satunya kamar kost yang berada di halaman belakang kosong karena tak ada yang mau menyewanya. Tak heran karena letaknya berada di depan kandang ayam dan dibawah pohon mangga yang lebat dedaunannya. Sebagaimanapun usaha ayahku untuk mengurangi tarif harga sewa, itupun sepertinya gagal menggaet minat pengunjung.

“Petok – petok – petok !!!” Tiba – tiba saja aku mendengar suara yang tak asing lagi di telingaku. Yah benar, itu suara Ujang. Kedengarannya sumber suaranya berasal dari dalam kamar kost itu. Ketika sebatas menapak dua langkah, kulihat Ujang berlari keluar dari kamar kost. Ekspresinya terlihat marah, dia sepertinya meneriaki seseorang yang berada di dalam kamar . Setelah itu dengan sigapnya dia menghindari lemparan sandal jepit yang seperti meriam meluncur dari mulut pintu. Hah, seseorang membuat Ujang marah dan sekarang menyerangnya dengan sandal jepit, aku tak terima, batinku dalam hati.

Kulepaskan  kedua dekapanku pada Ratih dan Mimit sehingga mereka meluncur ke tanah dan mendarat dengan gemilangnya seperti atlet Paralayang. Kemudian aku berlari menuju ke TKP dimana situasi Ujang sedang terancam. Ketika sampai di depan kost, kulihat Ujang berlari kencang dari dalam menuju ke luar. Karena kebetulan keberadaannku tepat di depan pintu, maka kujulurkan kedua tanganku menengadah ke bawah, dan dengan respon yang cepat Ujang melompat ke arahku dan akhirnya aku bisa menangkap dan mendekapnya di dada. Lalu kulihat, dari dalam ruangan gelap dibelakang pintu kost, perlahan – lahan muncul sesosok lelaki dengan tangan kanannya membawa sebuah sandal jepit dengan ancang – ancang siap untuk melemparkan sandal itu ke arah Ujang yang mana seolah diriku dan ujang adalah narapidana yang sudah saatnya dieksekusi hukuman mati saja. Melihatku mendekap Ujang, lelaki itu menghentikan langkahnya dan mengurungkan niatnya untuk melempar.

“Heh, jangan lempar – lempar sembarangan begitu kepada ayamku! Bagaimana kalau sampai terjadi apa – apa?? Mau tanggung jawab?!” Bentakku dengan keras.

“Oh jadi itu ayammu?” Pantas saja sama galaknya dengan yang punya,” Perkatannya membuatku menjadi sebal dan Ujang sepertinya juga merasakan hal serupa dalam dekapanku.

“Memang apa yang dilakukan Ujang sehingga kamu sampai tega melemparnya dengan sandal seperti ini?” Tanyaku meminta penjelasan.

“Ujang??” Dia hanya mengulang nama ayam jagoku ini dan kemudian diam sejenak. Sepertinya otaknya sedang mencerna siapa yang dimaksud dengan Ujang. Ketika dia melirik ayam jago yang sedang kudekap, sepertinya dia sudah paham apa yang kumaksud.

“Ujangmu keterlaluan, masak dia membuang kotoran di dalam kamar dan bersikeras tidak mau keluar saat aku usir. Kau tau butuh 2 jaman lebih untuk membersihkan kamar kost yang berdebu seperti gudang ini”

“ Aku tidak tahu kalau hari ini ada yang menempati kamar ini. Sudah kebiasaan aku dan Ujang bermain di kamar ini karena tidak ada peghuninya dalam waktu yang lama. Jadi maaf kalau dia mengganggu, “ Jelasku kepadanya.

“Ya sudahlah, bawa ayammu yang menyebalkan itu pergi “ katanya enteng tanpa mau memahami betul alasan yang aku utarakan. Kemudian lelaki itu masuk ke kamarnya dan samar – samar aku dengar dia sedang membersihkan kotoran ayam yang seakan menjadi bencana. Aku sudah meminta maaf. Sudah menjelaskan masalahnya. Namun sikapnya tetap menyebalkan. Huh, memangnya enak ada kotoran di dalam ruangan. Anggap saja aroma kotoran itu sebagai tanda perkenalanmu dengan Ujang, batinku sambil mengelus – elus kepala Ujang dan kemudian aku langsung berjalan menuju kandang ayam yang tak jauh dari ruangan kost lelaki tadi. Kumasukkan Ujang ke dalam kandangnya menyusul Ratih dan Mimit yang sepertinya sudah terlelap dengan posisi tidur yang aneh. Seketika itu juga bunyi Adzan Mahgrib terdengar.

###

Ketika keluar dari kamar mandi sambil membasuh rambutku yang masih basah dengan handuk, aku melihat di meja makan sudah tertata rapi sebuah hidangan diatas baki yakni setumpuk biskuit diatas piring yang membentuk gunung dan teh panas yang masih mengepul yang disampingnya disertakan gula batu. Waduh, perutku langsung merespon ketika melihat itu. Langsung saja aku lari menghampirinya. Air liurku sepertinya bergejolak di dalam mulut. Kalau dipikir – pikir tindakanku ini sama persis saat Ujang, Ratih dan Mimit ketika kuberi makan. Namun bukan hal aneh sifat majikan menurun kepada peliharaannya. Ketika tanganku hanya berjarak sejengkal saja dari biskuit yang seakan menggodaku, mendadak tangan ayah muncul dan menampar pergelaganku.

Plakk!! Bunyi gesekan dari benturan kedua buah tangan yang tak bisa dihindari lagi. Serentak aku langsung sebal dengan tindakan yang ayah lakukan. “Ayah apa – apan sih?!!”

“Hidangan itu untuk penghuni baru kost kita,” Ayahku menegaskan alasan tindakannya.

“Hah lelaki yang menyebalkan yang menghuni kost belakang itu” Ujarku kepada Ayah.

“Husss, bicara apa kamu. Namanya Andi. Dia anak yang baik. Dia menyewa kamar kost di belakang kurang lebih 3 bulan karena ada tugas PPL di jurusannya. Memangnya ada apa sampai kamu bisa – bisanya mengatai Andi menyebalkan?”

“Ayah tidak tahu sih, dia tadi membentak – bentak Ujang dan ingin melemparnya dengan sandal. Dia sungguh kejam!”

“Bukannya sudah ayah bilang jangan pernah mengajak ayam – ayammu main di dalam ruangan kost di belakang, alhasil itu akan menjadi kebiasaan mereka.”

“Lagipula kenapa ayah repot – repot segala menyediakan hidangan seperti ini untuk kak Andi? Biasanya ayah tidak melakukan hal ini kepada penghuni – penghuni yang lain”

“Kak Andi tidak menawar sepersen pun harga sewa kost yang ayah ajukan.Itu diluar dugaan mengingat kondisinya yang lusuh. Terlebih banyak sekali kotoran ayam disitu gara – gara ayam - ayammu. Kemudian saat ayah ingin membersihkan kamar kost dibelakang sebelum dihuninya, dia bilang tidak usah repot – repot, dia akan membersihkannya sendiri. Kurasa dia anak muda yang punya budi pekerti yang baik. Oleh sebab itu sebagai tanda terima kasih, ayah berikan hidangan ini untuknya, untuk sedikit meringankan rasa capeknya. Oke, tolong kamu bawa hidangan ini ke kamar kak Andi”

“ Hah, aku...?”

###

Harusnya, cukup diperlukan 50 detik saja dari rumahku berjalan menuju ke kamar kak Andi. Tetapi karena ketidakmahirannku membawa baki yang diatasnya tersaji hidangan, maka kupelankan langkahku untuk berhati – hati menjaga keseimbangan agar minuman teh yang kubawa tidak tumpah mengenai biskuitnya. Kulihat ada badai ombak di mulut gelas yang tercipta karena tanganku yang bergetar hebat. Sepertinya aku lebih mahir dalam menggendong ayam daripada membawa baki dan menyajikan hidangan.

Sesampainya di depan halaman kamar kak Andi, kulihat pintunya tidak tertutup rapat sehingga menyisakan celah kecil yang memancarkan cahaya lampu dari dalam. Ketika tepat berada di depan pintu, aku mengintip lewat celah yang terbuka. Kulihat dirinya sedang sibuk mengetik sesuatu di laptopnya. Aku mengucapkan salam dengan keras sebagai ganti mengetok pintu karena kedua tanganku sedang dengan eratnya membawa baki hidangan.

Ngiikk, bunyi pintu terbuka dan sesosok tubuh kak Andi menjulang di hadapanku. Aku baru sadar tinggiku tak sampai sepundaknya, betapa mungilnya diriku dihadapannya.Ruangan di dalam sangat terang, hanya tubuh besar kak Andi saja yang terlihat hitam karena membelakangi cahaya lampu. Aku hampir tak percaya, ruangan kamar kost di halaman belakang yang hampir tak pernah dihuni sekarang menjadi begitu rapi. Lantainya bersih ditutupi karpet tipis. Ada kasur  lipat. Sebuah meja kecil yang diatasnya menopang sebuah laptop. Dispenser berukuran mini. Sebuah rak yang diisi beberapa buku kuliahan, dan beberapa botol madu dan air mineral. Rasa – rasanya kak Andi menyulap kamar ini dengan sekejap.

“Hei, ada apa? Kenapa celingukan begitu?”  Seru kak Andi dengan nada penasaran.

Melihat kamar yang disulap begitu rapinya, aku jadi terlupa dengan tujuanku kemari. Ketika kak Andi menegurku, aku sedikit tersontak kaget dan peganganku terhadap baki menjadi agak goyah. Namun refleks   tangan kak Andi memegangi baki di bagian bawah, sehingga hal yang tak diinginkan tak terjadi meski beberapa biskuit terkena cipratan air teh.

“Oh, maap kak Andi. Ini ada hidangan dari Ayah,” kataku sambil mengarahkan baki itu ke hadapannya. Kuamati  wajahnya saat ini sudah bersih tidak kucel dibandingkan saat pertemuan pertama tadi. Dia mempunyai sedikit janggut tipis yang tumbuh di dagunya. Rambutnya cepak seperti tentara saja tetapi hitam pekat.

Kak Andi langsung mengambil teh, gula batu serta piring yang penuh dengan segunung biskuit itu dan langsung menaruhnya di sisi sebelah meja laptopnya. Kemudian dia kembali kehadapanku dan berkata; “ucapkan terima kasih kepada ayahmu.”

“ Iya, itu pasti, “ aku menimpali perkataannya. Kakak sedang mengerjakan apa? “ Tanyaku penasaran karena sepertinya dia serius sekali tadi di depan laptop. Dia hanya menjawab sedang mengerjakan racangan pembelajaran. Aku tidak begitu paham apa yang dimaksudnya.

“Oh, ya namamu siapa?” Untuk pertama kalinya kak Andi bertanya kepadaku.

“Aku Liliana Safitri,” jawabku. Biasanya teman – temank memanggilku Lili.

“Kamu masih SD?” Dia kembali bertanya.

“ Tidak lah, masak begini dibilang masih SD,” Jawabku agak ketus karena sedikit tersinggung. “Aku sudah kelas 1 SMP. Ya, sudah ya selamat tinggal kak, “kataku kepadanya dan aku berjalan meninggalkan kamarnya. Entah mengapa hari ini diriku menjadi gampang judes kepada orang lain. Apa gara – gara aku belum bisa melupakan soal perkara ayam sore tadi dengan kak Andi?

“Lili!” Tiba – tiba saja kak Andi meneriakiku. Aku spontan menoleh kepadanya tanpa menghentikan langkahku.

“Soal tadi sore, maap jika aku terlalu kasar. Sampaikan maapku juga kepada entah siapa nama ayammu itu!”

“Namanya Ujang,” dengan cepat aku langsung menyahutnya. Perasaanku kini merasa sedikit lebih baik mengetahui kak Andi mau meminta maaf. Memang kalau dipikir – pikir rasa – rasanya semua itu adalah salahku membiasakan ayam – ayamku bermain di tempat yang bukan semestinya. Namun karena egoku, aku merasa tak ingin disalahkan.” Nanti kalau Ujang berbuat onar lagi, laporkan saja padaku,” Ucapku menutup perjumpaanku dengan kak Andi malam ini.

###

Rasa – rasanya aneh, seingatku terakhir kali aku berada di dalam bangku ruangan kelas. Pelajaran matematika adalah pertemuan pertama pagi ini. Aku tidak suka dengan matematika. Sungguh aku membencinya. Saat itu mataku sangat kantuk sekali karena malam harinya aku begadang melihat drama korea hingga larut. Kuputuskan untuk tidur sebentar di kelas karena Bu Laksmi, selaku guru pengajar matematika entah kenapa hari ini sudah 15 menit berselang tak kunjung tiba. Malahan tanpa sebab musabab dan bagaimana asal mulanya tiba – tiba saja aku tersadar berada di halaman belakang rumahku. Disitu kucermati diriku masih memakai seragam SMP. Terdengar ada suara keributan di kandang ayam. Setelah kudekati dan kulihat, hampir saja aku tak percaya dengan apa yang ada di depanku. Ujang, Ratih, Mimit, apa yang kalian lakukan?! Kulihat mereka bertiga sedang serius mempelajari buku matematika. Di halaman buku yang terbuka, terlihat materi bab 3 yang menjabarkan mengenai Teorema Phytagoras. Ujang, terlihat bagaikan yang paling pandai dalam mencerna materi yang dibaca. Dia mengangguk – anggukkan kepalanya layaknya Professor. Heiii, ini tak masuk akal, bentakku dalam hati. Tanpa menoleh kebelakang aku sadar bahwa pintu ruangan kamar kost kak Andi baru saja terbuka dan terdengar langkah kaki menuju ke arahku. Siapa ya batinku yang mendekatiku. Ingin kumenoleh ke belakang, tapi rasanya leher ini berat sekali untuk dibengkokkan. Kemudian dua buah tangan, masing – masing mencengkeram pundakku dan akhirnya pun bumi serasa bergoncang hebat.

“Ssstt – Ssst Lili bangun Lili!” Terdengar suara bisik – bisik Maulidha teman sebangkuku. Dengan sikutnya dia menggoncang – goncangkan badanku. Ketika sudah penuh kudapatkan kesadaranku , kulihat dia memelototiku seakan aku ini mangsa baginya.

“Hooaappp,” aku menguap keras sekali dan tiba – tiba saja telapak tangan Maulidha menutupi mulutku seraya berkata dengan nada pelan;

“Kamu ini apa – apaan sih. Sudah tidur di kelas, mengigau lagi teriak – teriak memanggil – manggil nama ayam peliharaannmu!” Ketika Maulidha menyinggung soal ayam, seisi kelas tertawa dengan riuhnya. Aku sangat malu menyadari tindakan bodohku ini. Kemudian kulihat mata Maulidha berkedip – kedip mengisyaratkan sesuatu. Tidak butuh waktu lama, aku paham maksudnya. Tanpa kusadari Maulidha memberitahukanku bahwa ada seseorang yang berdiri disampingku. Aduh gawat batinku, itu pasti Bu Laksmi. Entah hukuman apa yang akan diberikan akibat tindakan konyolku ini oleh Bu Laksmi. Dia, salah satu guru yang masuk daftar killer oleh kebanyakan siswa di SMP ini. Dan ketika aku menoleh dengan pelan, dan memasang ekspresi wajah menyesal, saat itupun aku terperanjat kaget!

“Hah, Kak Andi! “ Ujarku pelan. Jadi – jadi....kak Andi ternyata tak kuduga PPL di sekolahku dan mengampu pelajaran matematika, batinku.


“Hei, ini ruangan kelas, bukan kandang ayam,” tegur kak Andi sambil bersedekap tangan memandagiku dengan ekspresi yang tidak jauh berbeda ketika Ujang membuatnya kesal kemarin sore.  

 ARIEF W.S 21 - 04 - 2015
TERIMA KASIH