Friday, September 4, 2015

CERBUNG HOW CAN BE PART 5

Sekembalinya kak Andi dari Surabaya, perubahan drastis terjadi kepada dirinya. Setelah pertemuan malam itu yang tak sengaja diriku mendapati foto pacarnya, sejak saat itulah, perilakunya mulai menjadi aneh.  Memasuki bulan terakhir masa PPL-nya, seharusnya dia menunjukkan semangat yang lebih agar bisa mendapatkan penilaian yang optimal dalam laporannya nanti. Tetapi kupikir, karena permasalahan dengan pacarnya saat berada di Surabaya, sepertinya kak Andi kehilangan semangat.

Setiap paginya ketika berboncengan bersama menggunakan sepeda, pandangan kak Andi selalu menerawang kosong ke arah depan. Entah pikiran kalut apa yang sedang menerpanya. Biasanya aku selalu mengajaknya ngobrol dikala perjalanan entah membicarakan topik apapun itu, namun melihat suasana hatinya yang sepertinya sedang terombang – ambing, walhasil aku juga ikut – ikutan membisu.

Aktivitas mengajarnya pun juga ikut terkena dampak permasalahan pribadinya. Akhir – akhir ini ketika mengajar, kak Andi sifatnya sedikit tempramental, tidak humoris seperti biasanya. Aku juga sedikit merinding jika mengikuti gaya mengajar kak Andi seperti itu, hampir menyerupai Bu Laksmi yang menyandang status si guru killer. Kadang setelah marah – marah kalau ada yang tak memperhatikan saat kak Andi mengajar, biasanya dia duduk memandangi lapangan bola dari kaca jendela, termenung sekian lama.

“Pak Andi sedang sakit?” Bisik Maulidha pelan terhadapku sambil menyiratkan ekspresi keheranan. Kupikir hanya aku saja yang merasakan perubahan yang terjadi pada kak Andi. Ternyata hampir seisi kelas juga menyayangkan perubahan sikap yang serba mendadak ini. Kupikir setiap murid di kelas ini menginginkan kak Andi yang supel dan humoris seperti biasa dalam mengajar. Toh, sebelumnya Bu Laksmi si guru killer yang mengajar di kelasku sangat mengerikan. Datangnya kak Andi benar – benar memberikan perubahan angin segar.

“Ibunya yang berada di Surabaya sedang sakit,” Bisikku menanggapi pertanyaan Maulidha. Tentu saja aku harus berbohong, karena kak Andi juga berbohong dengan alasan Ibunya sakit saat meninggalkan kost dengan maksud agar masalah pribadi dengan pacarnya tak diketahui oleh orang lain, tak mungkin aku malah mengatakan yang sebenarnya.

“Ini sudah ke 20 kalinya dan tetap saja kamu tak paham!!” Begitulah suatu ketika di malam hari kak Andi membentakku saat kita belajar bersama karena ketidakmampuanku dalam memahami suatu rumus. Ini pertama kalinya kak Andi membentakku.

Aku sungguh deg – degan saat itu. Tak biasanya jantungku berdebar keras seperti itu. Aku hanya menunduk terdiam. Kak Andi kemudian meminta maaf dan menyesal telah membentakku. Saat itu kupandangi wajah kak Andi yang sangat kucel. Rambut pada janggut yang merambat hingga ke dagu dan kedua pipinya tumbuh lebat tak dirapikan, sehingga membuat kesan sedikit berewokan. Rambut di kepalanya pun sudah agak gondrong, sehingga agak bergelombang jika tak disisir rapi. Kamarnya pun tak serapi seperti 2 bulan kemarin. Kini kamarnya benar – benar berantakan. Kurasa kak Andi berubah menjadi pribadi yang kacau sekembalinya dari Surabaya. Selain itu, sering kudapati handphone kak Andi bergetar di meja berulang kali saat kegiatan belajar bersama. Bahkan hampir setiap kali saat belajar bersama handphone kak Andi selalu bergetar. Di layar handphone itu tertulis  MyHeart nickname dari sebuah nama dari Ayunda Lestari yang sedang memanggil. Kak Andi selalu membiarkannya dan tak pernah sekalipun mengangkatnya. Meski aku duduk tak jauh dari letak handphone kak Andi yang selalu bergetar terus menerus, tapi aku tak pernah menanyakan siapa pemilik Nickname MyHeart tersebut, karena sebenarnya diam – diam aku sudah paham apa masalahannya.

*****

Malam ini langit tak ubahnya seperti medan perang. Kilatan cahaya mewarnai langit seakan para guntur sedang berpesta. Aku membasuh peluh keringat yang membasahi pipiku. Sambil mendesah keras menghela nafas dalam – dalam, saat itu juga kak Andi membuka pintu ruangan kost dengan sembari gerakan tangan mengucek rambutnya dengan handuk setelah mandi terhentikan begitu melihatku duduk di dalam kostnya.

“Eh, Lili, bukannya besok pelajaran kosong dan tak perlu belajar bersama?” Kata kak Andi dan kemudian dia menoleh ke seluruh isi ruangan. Mendapati karpet nya sudah bersih dari bungkus – bungkus kotoran. Rak buku yang tertata rapi. Debu – debu si setiap sudut yang entah menghilang kemana? Perabotan makan yang sudah tercuci bersih. Baju – baju yang sudah dirapikan. Dan aroma wangi ruangan yang menyejukkan seperti parfum. Setelah menoleh – noleh seperti petani yang sedang mengincar kancil yang kedapatan mencuri timunnya, kemudian kak Andi memerhatikanku dengan seksama.

“Lili, kaukah yang merapikan dan membersihkan segalanya?”

“Ah, iya, hehehe, “ Jawabku sambil kembali membasuh keringat yang mengucur dari kepala yang  membasahi pipiku.

Kak Andi kemudian melihat ke arah bawah, sadar mendapati dirinya hanya mengenakan celana pendek saja setelah mandi dan sontak berkata “Maaf,” lalu segera dia menuju ke tas koper yang berisi pakaian, mengambil sebuah kaos dan memakaianya.

Aku memang sengaja membersihkan kamar kak Andi ketika dia mandi. Setidaknya ingin memberikan kejutan kepadanya. Untunglah rencanaku berhasil, meski harus menggebu – gebu tadi saat membersihkannya karena khawatir kak Andi akan selesai mandi sebelum segalanya beres.

Setelah menyampirkan handuk, kak Andi kemudian duduk dihadapanku. Jarak kami dibatasi oleh sebuah meja mini yang biasanya kita buat untuk belajar bersama. Meskipun kak Andi belum merapikan janggut serta rambutnya yang masih panjang berantakan, namun kini wajahnya sudah segar selepas mandi.

“Lili, hmm tak seharusnya kamu repot – repot membersihkan kamarku seperti ini, katanya sambil menggaruk – garuk kepalanya.

“ Tidak apa – apa kak. Lagian semua kulakukan atas keinginanku sendiri. Sebenarnya aku tak ingin belajar dengan keadaan kamar kakak yang berantakan. Aku ingin suasananya bersih seperti dulu. Lagipula, sebagai balas budi juga karena selama ini kakak selalu mau mengajariku belajar matematika.”

“Hmm.., kalau begitu aku sungguh berterima kasih banyak Lili atas kebaikanmu, “ ucap kak Andi dengan ekspresi datar. Sebenarnya aku ingin kak Andi tersenyum atau sebagainya melihat apa yang kulakukan. Tapi mungkin kejutan ini masih tak berhasil membuat suasana hatinya yang sedang kalut menjadi sedikit lebih riang. Kemudian terdengar handphone kak Andi di atas meja kembali bergetar. Kak Andi sontak lama memandanginya dan sama seperti biasanya, dia tak mengangkatnya. Saat itulah kurasa aku sebaiknya pamit dulu. Sepertinya aku malah mengganggu posisi kak Andi yang seharusnya di saat - saat seperti ini butuh kesendirian untuk menenangkan pikirannya. Dan saat hendak beranjak dari posisi duduk, tiba – tiba saja kak Andi berkata;

“Oh, iya Lili, mau aku buatkan roti selai madu kah?”

Mendengar itu, perasaanku langsung senang. Itu menandakan bahwa kak Andi ingin diriku sedikit lama berada di kamarnya. Saat tawaran roti selai madu itu terlontar dari mulut kak Andi, posisiku sempat sedikit mengangkat tumit dan ingin beranjak berdiri. Dan setelah mendengar tawaran kak Andi, entah kenapa tubuhku mendadak membeku. Sontak saja langsung aku jawab aku ingin roti selai buatan kak Andi. Kemudian setelah menjawab, kulemaskan tumitku dan akhirnya aku kembali duduk serta batallah sudah niatku untuk pergi.

Ketika kak Andi menyodorkan roti selai madu buatannya aku langsung menyahut dan mengunyahnya keras – keras. Kulihat kak Andi juga mengigit rotinya sendiri.

“Kenapa kamu tak ikut kedua orang tuamu ke kelurahan mengikuti acara malam 17 Agustusan? Bukannya kamu panitia yang mendekor panggung acara?” Tanya kak Andi dengan mulut penuh gigitan roti.

“Pas lomba kemarin aku memenangkan hampir semua perlombaan loh. Kalau tidak salah aku juara 1 sebanyak 7 kali lomba yang aku ikuti. Ada lompat karung, bawa kelereng dengan sendok, panjat pinang, dan apalah banyak pokoknya. Aku gak berangkat karena malu nanti dipanggil 7 kali ke panggung saat penyerahan hadiah. Mana nanti disuruh berpidato menyikapi hari kemerdekaan ini. Kalau suruh adu lomba sih oke, tapi lo pidato di depan banyak orang, aduuhh, rasa percaya diriku tiba – tiba meninggalkanku, “ jawabku dengan penuh antusias dan tanpa sadar aku melihat kak Andi tersenyum melihatku. “ Apa yang lucu kak”? Tambahku kepada kak Andi.

Kamu anak yang tak terlalu bagus dalam hal pelajaran Lili, “ Kata Kak Andi. Hanya saja kamu terlalu hebat untuk hal – hal diluar non formal seperti menjalin komunikasi dengan ayam – ayammu. Memenangkan bayak lomba seperti yang kamu ceritakan barusan. Memberikan kejutan seperti membersihkan kamarku disaat aku mandi. Sebenarnya ini luar biasa kamarku menjadi bersih hanya dalam jangka waktu hanya 20 menit saja selang aku tinggal mandi. Kalau aku sendiri yang membersihkan mungkin butuh waktu hampir 1 jam. Kau ingin tahu sesuatu yang lain?”

“Apa itu, “ Kataku penasaran campur bahagia karena kak Andi masih tersenyum hingga saat ini. Senyumannya ini yang aku tunggu karena sekembalinya dari Surabaya, kak Andi hanya menunjukkan wajah muram seperti hantu di malam jumat kliwon.

“ Ketika aku seusiamu, aku bahkan tak pernah menjuarai satupun lomba pada saat acara memeriahkan 17-an. Hingga pada malam hari kemerdekaan aku pernah menangis keras – keras karena tak pernah naik panggung menerima hadiah. Tangisanku sontak membuat heboh dan akhirnya ada temanku yang merelakan kado hadiah juara lombanya untukku. Seketika itupun aku berhenti mengais,” Ungkap Kak Andi. Akupun langsung merespon dengan tawa yang keras setelah mendengar ceritanya.

“ Jadi kamu dulu itu adalah anak yang cengeng ya kak Andi, “ tukasku sambil tertawa keras sampai tak sadar masih ada roti di dalam mulutku.

“Hei, aku bukan anak cengeng, “ kilah kak Andi dan tetap saja aku masih terus mengejeknya dengan candaan. Setelah itu, perbincangan kami terus berlanjut tanpa sadar seakan tenggelam dalam arus obrolan yang hanyut dalam aliran menuju muara yang tak berujung.

*****

Pagi harinya sepulang upacara hari kemerdekaan di sekolah, kurang lebih pukul 10.00, aku menggedor pintu kamar kak Andi keras – keras. Ketika pintu terbuka, aku sedikit terkejut mata kak Andi agak memerah dan tangannya menggegam handphone.

“Oh, Lili. Ada perlu apa?” Tanya kak Andi bersandar pada ujung pintu dengan masih menggunakan seragam mengajarnya.

“Mata kakak kenapa merah?” Tanyaku.

“Oh, ini tadi terkena debu saat kita perjalanan pulang tadi naik sepeda,” jawabnya lagi – lagi berbohong meskipun sebenarnya aku tahu akhirnya kak Andi menerima panggilan pacarnya Ayunda Lestari dan sepertinya terjadi pertengkaran atau percakapan yang buruk.

“Oh, iya kak. Aku mau mengajak kakak ke sungai tempat aku dan Ujang, Rara serta Mimit biasanya bermain. Aku jamin kakak bakal suka, karena viewnya indah.” Ajakanku kepada kak Andi. Tapi reaksinya sepertinya menandakan kak Andi enggan menerima ajakanku.

“Sebetulnya aku juga mau menemani tapii....,” belum selesai kak Andi mengutarakan alasan penolakannya tiba – tiba dia berteriak dengan kencang; “Awww!” Sontak aku juga terkejut dan kak Andi mengangkat serta memeganngi telapak kakinya.

Ternyata semua ini adalah ulah Ujang yang mematuk telapak kaki kak Andi. Akupun juga heran mendadak saja Rara, Mimit dan Ujang sudah berada dibawahku. Seakan mereka mempunyai telepati untuk membaca pikiranku, mengetahui jika aku mempunyai rencana untuk pergi ke sungai yang notabene tempat bermain kesukaan mereka.

“Apa – apaan sih ayammu ini!, “ desah miris kak Andi sambil mengelus – elus telapak kakinya.

“Kurasa Ujang juga menginginkan kakak ikut deh main ke sungai,” Ujarku. Kemudian kak Andi memandangiku dan aku memberikan ekspresi memelas kepadanya; “ kumohon kak!”

*****

“ Kenapa kamu tak bilang dari dahulu jika ada sungai besar di area desamu,” Kata kak Andi dengan ekspresi kagum.

Kulihat Ujang, Rara dan Mimit sudah asyik bermain sendiri di pinggir bantaran sungai. Memang tak bisa dipungkiri, jika di suatu daerah kebanyakan warganya selalu berkumpul di alun – alun kota untuk menghabiskan akhir pekan maupun sekedar refreshing, maka kalau di desaku, sungai ini adalah pilihan utamanya. Selain airnya yang jernih, arusnya yang deras namun dangkal, batu – batuannya yang besar, gemericik airnya yang menggoda telinga, terutama udaranya yang super sejuk walau di siang hari, itulah nilai utama kekuatan daya tarik sungai ini. Aku memang sengaja mengajak kak Andi ke sini untuk menyegarkan pikirannya. Agar tak terlalu larut dalam permasalahan yang terjadi antara dirinya dan pacarnya. Dan yang pasti, tujuanku sukses besar hari ini.

Kulihat kak Andi langsung berlari naik ke salah satu batuan bulat yang kokoh yang berdiri tegap di atas sungai. Dia berdiri dan melihat sekeliling.

“Wow, ini sih keren, “ Ungkapnya kagum. “Coba kamu bilang dari dulu ada sungai seindah ini Lili”

“Nah, apa kubilang! Kakak pasti menyukainya, “ kataku menegaskan. Lalu kemudian aku juga berlari menaiki salah satu batuan yang ukurannya tak terlalu besar membelakangi kak Andi. Aku angkat tanganku, menegapkan dadaku dan menghirup udara sebanyak – banyak. “ Hmm segarnyaa..,” Ungkapku dengan penuh kelegaan.

“Lili, coba menoleh kemari”, tiba – tiba saja Kak Andi memanggilku. Dan, tepat ketika aku memalingkan wajah ke arah kak Andi, sebuah bunyi shutter kamera handphonenya berbunyi. Clikk!! Kemudian kupandangi kak Andi tersenyum sendiri memandangi hasil jepretannya.

“Hah, apa – apaan sih kamu kak asal jepret segala!!” Kataku geram. Kemudian aku melompat dari batu, berjalan menuju ke arah kak Andi dengan langkah yang menimbulkan bunyi gemericik. “ Sini kak berikan padaku aku ingin lihat, “ pintaku pada kak Andi tapi dia tak mau menyerahkannya karena alasan pasti aku akan menghapusnya sambil tersenyum kecut.

Langsung aku menengadahkan tanganku untuk mengambil handphone yang berada di genggamannya, tapi secara gesit kak Andi berhasil menghindari gerakan tanganku. Hah, aku makin kesal, kak Andi melompat ke batuan yang lain dan aku tetap mengejarnya. Karena tinggi kami yang berbeda jadi aku kesusahan meraih tangannya, dan kak Andi tetap saja memancingku dengan godaan tawanya. Aku memasang muka geram terhadap kak Andi, tapi sebenarnya hatiku tertawa geli. Sayangnya momen canda ini harus berhenti karena handphone kak Andi kembali bergetar. Dan tak perlu kutebak lagi siapa yang menghubunginya.

Kak Andi mendadak berhenti seolah – olah berubah menjadi patung. Wajahnya menjadi kembali kalut memandangi layar handphonenya. Karena aku tak ingin momen ini dirusak oleh pacarnya, maka aku melompat dari batu, menuju ke tengah sungai yang kedalamannya lebih menjorok, setelah itu kumasukkan dalam – dalam kedua tanganku dan sekuat tenaga kucipratkan gumpalan – gumpalan air kepada kak Andi.

Byuuuurrr!! Suara air menciprati tubuh kak Andi yang sedang mematung. Respon tubuhnya seperti orang yang kaget setengah mati. Dia menoleh padaku dan berteriak, “ Lili jangan nakal ya!!”

Dan akhirnya, apa yang aku upayakan untuk mengalihkan perhatiannya terhadap pacarnya berhasil. Kak Andi melucuti kaosnya untuk menutupi hanphonenya yang dia letakkan di atas batuan yang dipijaknya. Setelah itu dia melompat ke sungai dan menimbulkan debum suara air yang keras kemudian dengan cepatnya membalas seranganku tadi dengan cipratan air yang lebih banyak lagi karena tenaga kak Andi lebih kuat dariku.

Byuurrr!!! Akhirnya serangan balasan kak Andi berhasil mengenaiku sebagai sasaran. Aku agak sedikit terpelanting dan hampir terseok jatuh mendapati guyuran air dari kak Andi. Tapi aku tak tinggal diam begitu saja, dengan cepat aku juga langsung membalas serangan kak Andi, sayangnya kak Andi bisa menghindarinya untuk kali ini. Dan begitulah, hari itu kami menghabiskan waktu bermain air di sungai hingga menjelang tengah hari. Ujang, Rara dan Mimit setidaknya mereka menjadi penonton yang setia pada saat itu.

*****

Keesokan paginya hal luar biasa terjadi. Pukul 06.00 pagi, ketika aku menuju kandang ayam seperti biasanya, kulihat kak Andi jongkok di depan kandang ayam sudah siap dengan seragam mengajarnya dan sedang memberi makan Ujang, Rara dan Mimit. Yang luar biasa kak Andi mengelus – elus kepala Ujang dengan santainya dan Ujang seakan menikmati belaian sayang dari kak Andi. Sesuatu hal yang tak bisa dipercaya karena mereka berdua sebetulnya tak begitu akur.

Aku melangkah mendekati mereka namun terhenti ketika melihat sesuatu yang teronggok di kotak sampah di depan kamar kost kak Andi. Awalnya aku agak ragu dengan apa yang aku lihat namun aku yakin sesuatu yang teronggok di tempat sampah itu adalah sesuatu yang aku kenal pasti. Dalam himpitan plastik dan kotak – kotak cemilan serta minuman, kuraih sebuah kertas yang menyelip diantara sampah – sampah dan kutarik kertas itu. Dan aku sendiri tak peracaya, dalam jepitan dua buah jariku, kupandangi wajah kak Ayunda Lestari yang sangat cantik seolah sedang mengamatiku. Ya, itu adalah foto kak Ayunda kekasih kak Andi. Lantas kenapa bisa ada ditempat sampah seperti ini?

“Lili,” seru kak Andi. Kemudian aku menoleh ke arah dirinya dan menyembunyikan foto kak Ayunda dibalik rok seragam sekolahku. Kulihat kak Andi berdiri dan mendekat. Kupandangi ada yang berbeda kali ini dengan kak Andi. Rambutnya kini sudah dicukur, disisir rapi dengan balutan pomade. Berewoknya juga sudah hilang, kini area dagu dan pipinya bersih mulus seperti sedia kala. Kak andi sudah kembali keren seperti biasanya. Apa yang terjadi sebenarnya? Apakah dengan dibuangnya foto kak Ayunda ini menandakan bahwa kak Andi sudah memutuskannya? Dan dengan berubahnya tampilan kak Andi yang sekarang sudah keren seperti sedia kala menandakan bahwa dia sudah bisa move on?

“Lili, sudah siap untuk berangkat, “ Tanya kak Andi sambil dia menuntun sepeda Ayah sembari menghampiriku.

“Eh,.. iya, siap Pak Guru, “ jawabku sambil secara diam – diam aku memasukkan lembar kertas foto kak Ayunda ke dalam saku celanaku begitu kak Andi mulai berjarak tak jauh dariku.

Ketika perjalanan berboncengan menaiki sepeda, kak Andi sudah kembali berceloteh seperti kicau burung di pagi hari. Aku senang akhirnya kak Andi kembali seperti semula. Dulu, ketika pertama kali  mengetahui dia mempunyai pacar yakni kak Ayunda, duh rasanya hati ini benar – benar galau. Emosi bergelut tak karuan di hati. Namun mau bagaimana lagi, ingin memprotes kepada siapa kalau kak Andi sudah ada yang punya? Saat itu aku menyadari bahwa sebenarnya aku menjadi egois jika marah – marah tanpa alasan yang jelas. Dan aku mulai bersyukur setidaknya bisa menyukai kak Andi sebatas kakak – adik.

Tapi mengetahui kak Andi menjadi kacau setelah mempunyai masalah dengan kak Ayunda, rasa – rasanya hati ini tak tega melihat orang yang kita sukai berubah dalam keterpurukan. Walhasil, entah kenapa aku menjadi lebih perhatian ketika kak Andi sedang dirundung cobaan. Aku hanya berusaha, apapun itu agar kak Andi kembali tersenyum. Bisa dibilang rencanaku itu berhasil. Sekarang kak Andi sudah kembali lagi seperti semula. Hanya saja sangat disayangkan kemungkinan besar kak Andi memutuskan hubungannya dengan kak Ayunda ditandai dengan dibuangnya foto kekasihnya dan perubahan drastis pada diri kak Andi pada pagi hari ini. Memang, disisi lain aku menyayangkan andai saja hubungan kak Andi dengan kak Ayunda benar – benar pupus - disitu aku merasa agak sedikit jahat karena mempunyai perasaan lega jika kak Andi kembali menjadi jomblo. Dan jika benar – benar kak Andi nantinya mempunyai status jomblo, akankah aku berani menyatakan perasaanku diluar batas sekedar hubungan kakak- adik ini? Dan akankah kak Andi mau menerima perasaanku untuk menggantikan diri kak Ayunda di dalam hatinya? Baru kali ini dalam hidup aku takut akan sebuah jawaban.